Jumat, 19 Oktober 2018

Sunnah Takbir


◆◆☆☆ SUNNAH TAKBIR ☆☆◆◆

فصل يسن رفع اليدين غي اربعة مواضع
عندالتكبيرة الاحرام
وندالركوع
وعندالاعتدال
وعندالقيام من التشهدالاول

SUNNAH TAKBIR
Yusannu Rof’ul Yadaini Fii Arba’ati Mawaadhi’a:
Inda Takbiirotil Ihroomi,
Wa’indarrukuu’i,
Wa’indal I’tidaali,
Wa’indal Qiyaami Minattasyahhudil Awwali,

Disunahkan mengangkat tangan pada 4 tempat yaitu:

Ketika Takbirotul Ihrom,
dan ketika Ruku’,
dan ketika I’tida,
dan ketika bangun dari Tasyahhud yg pertama.

Syarh atau Penjelasan
Sunahnya mengangkat tangan

Disunnahkan mengangkat kedua tangan di empat tempat.
Pertama, mengangkat tangan pada saat takbiratul ihram.
Mengangkat tangan pada saat takbirat al-ihram yang paling sempurna adalah dengan mengangkat kedua telapak tangan sampai keduanya sepadan dengan kedua pundak kanan dan kiri.
Sebagian pendapat lain mengatakan kedua telapak tangan diangkat sampai menempel pada kuping bagian bawah.

Kedua, mengangkat tangan pada waktu ruku’.

Ketiga, mengangkat tangan pada waktu i’tidal, bangun dari ruku’.

Keempat, mengangkat tangan pada saat berdiri dari tasyahud awwal.

Tidak disunnahkan mengangkat tangan pada selain yang keempat tersebut.

SYARAT2 SUJUD DALAM SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم
فصل شروط السجود سبعة :
● ان يسجد علي سبعة اعضاء
●وان تكون جبهته مكثوفة
●والتحامل برأسه
●و عدم الحهوى لغيره
●وان لا يسجد على شئ يتحرك بحركته
●وارتفاع أسافله على أعاليه
●والطممأنينة فيه

SYARAT SUJUD
Syuruuthussujuudi Sab’atun :
1)An Yasjuda ‘Alaa Sab’ati A’dhooin,
2)Wa An Takuuna Jabhatuhu Maksyuufatan,
3)Wattahaamulu Biro’sihi,
4)Wa ‘Adamul Huwiyyi Lighoyrihi,
5)Wa An Laa Yasjuda ‘Alaa Syain Yataharroku Biharokatihi, 6)Wartifaa’u Asaafilihi ‘Alaa A’aaliihi،
7)Waththuma’niinatu Fiihi،

وان يقول فى سجوده :
سبحان ربي ﻻعلى وبحمده ثﻻث مرات

Wa An Yaquula Fii Sujuudihi
" Subhaana Robbiyal A’laa Wabihamdihi
" (Tsalaatsa Marrootin) .

اعضاءالسجود سبعة
الجبهة
وبطون الكفين
وركبتين
وبطون الاصابع الرجلين

A’Dhooussujuudi Sab’atun :
Al-Jabhatu،
Wabuthuunul Kaffaini،
Warrukbataini،
Wabuthuunul Ashoobi’irrijlaini.

Syarat-syarat sujud itu ada7:
1)Bahwa ia sujud atas 7 anggota,

2)dan bahwa dahinya itu terbuka,

3)dan memberatkan sedikit dengan kepalanya,

4)dan tidak turun sujud karena lainnya,

5)dan bahwa ia tidak sujud di atas sesuatu yg bergerak dengan geraknya,

6dan mengangkat anggota bawahnya
atas anggota atasnya,

7)dan tuma’ninah pada ketika sujud,

dan sunah bahwa ia
berkata pada sujudnya
" Subhaana Robbiyal A’laa Wabihamdihi " (3 kali) .

Anggota-anggota sujud itu ada 7 :
Dahi ,
dan perut 2 telapak tangan ,
dan 2 dengkul ,
dan perut jari-jari 2 kaki.

Syarh atau Penjelasan
==================

Syarat Sujud
Syarat sujud ada tujuh.
Pertama, sujud di atas tujuh anggauta badan.
Karena ada penjelasan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah mengatakan
“aku telah diperintahkan sujud di atas ketujuh anggauta badan, yaitu kening kepala (jidat), kedua telapak tangan, kedua lutut, pucuk-pucuk jari kedua telapak kaki.”
Hadits yang telah diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

Kedua,
keningnya harus terbuka, tidak boleh tertutut kecuali ada udzur, seperti di kening tumbuh rambut atau ada perban di kepala yang telah menutupi kening dengan sekiranya jika perban tersebut dicopot akan membahayakan pada kesehatannya.

Ketiga,
meletakkan kepalanya dengan sekiranya keningnya benar-benar menempel pada tempat sujud.

Keempat,
tidak ada niat selian sujud.

Kelima,
tidak sujud di atas sesuatu yang dapat bergerak dengan sebab pergerakan sujudnya seseorang.

Keenam,
mengangkat dan meletakkan anggauta bawah, yaitu pantan di atas anggauta atas yaitu kepala.
Dengan kata lain, meletakkan pantat di atas dan meletakkan kepala di bawah.

Ketujuh,
tuma’ninah dalam sujud.
Artinya meletakkan ketujuh anggauta dalam satu waktu secara bersamaan.

(Khatimah);
Ada tujuh anggota sujud, yaitu :
◆pertama, kening kepala (jidat).
◆Kedua dan ketiga, kedua telapak tangan.
◆Keempat dan kelima, kedua lutut.
◆Keenam dan ketujuh, pucuk-pucuk jari-jemari kedua telapak kaki.

TASYDID PADA TASYAHUD
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

فصل تشديدات التشهد أحدى وعشرون
خمس غى اكمله وستة عشر فى اقله

التحيات على التاء والياء
المباركات الصلوات على الصاد
الطيبات على الطاء والياء
لله على اﻻم الجﻻلة
السﻻم على السين
عليك ايهاالنبى على الياء والنون والياء
ورحمة الله على ﻻم الجﻻلة
وبركاته السﻻم على السين
وعلى عبادالله على ﻻم الجﻻلة
الصالحين على الصاد
اشهدان ﻻاله على ﻻم الف
اﻻالله على ﻻم الجﻻلة
واشهدان على النون
محمدا رسول الله على ميم محمد و على راء وعلى ﻻم الجﻻلة

TASYDID PADA TASYAHUD
TASYDIIDAATUTTASYAHHUDI IHDAA WA’ISYRUUNA KHOMSUN FII AKMALIHI WASITTATA ‘ASYARO FII AQOLLIHI.
Attahiyyaatu ‘Alattaa-i Walyaa-i ,
Walmu baarokatushsholawaatu ‘Alashshoodi,
Ath-Thoyyibaatu ‘Alaththoo-i walyaa-i,
Lillaahi ‘Alaa Laamil Jalaalati,

Assalaamu ‘Alassiini,
‘Alaika Ayyuhannabiyyu ‘Alalyaa-i Wannuuni Walyaa-i ,
Warohmatullaahi ‘Alaa Laamil Jalaalati,
Wabarokaatuhu Assalaamu ‘Alassiini ,
‘Alainaa Wa’alaa ‘Ibaadillaahi ‘Alaa Laamil Jalaalati,
Ash-Shoolihiina ‘Alashshoodi,
Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaahu ‘Alaa Lam Alif Walaamil Jalaalati,
Wa Asyhadu Anna ‘Alannuuni,
Muhammadarrosuulullaahi ‘Alaa Mimi Muhammadin Wa ‘Alarroo-i Wa ‘Alaa Laamil Jalaalati.

Semua Tasydidnya Tasyahhud itu ada 21:
5 pada yg paling sempurna dan,
16 pada yg paling sedikitnya.

Attahiyyatu di atas huruf Ta dan Ya,
dan Mubarakatushsholawaatu di atas huruf Shod,
Ath-Thoyyibaatu di atas huruf Tho dan Ya ,
Lillaahi diatas huruf Lam Jalalah,
Assalaamu di atas huruf Sin ,
‘Alaika Ayyuhannabiyyu diatas huruf Ya dan Nun dan Ya,

Warohmatullaahi di atas huruf Lam Jalalah,
Wabarokatuhu Assalaamu di atas huruf Sin,
‘Alainaa Wa’alaa ‘Ibaadillaahi di atas huruf Lam Jalalah,
Ash-Shoolihiina di atas huruf Shod,
Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaahu di atas huruf Lam Alif dan Lam Jalalah,

Wa Asyhadu Anna di atas huruf Nun,
Muhammadarrosuulullaahi di atas huruf Mim Muhammad dan di atas huruf Ro dan di atas huruf Lam jalalah.

Syarh atau Penjelasan

Bacaan tasydid dalam tasyahhud
Bacaan tasydid dalam tasyahhud ada dua puluh satu (21) tempat.
Lima terdapat dalam sujud yang ada pada duduk awal,
dan enam belas terdapat dalam duduk akhir.

Dua huruf yang terdapat dalam kalimat at-tahiyyat,
yaitu huruf ta’ dan ya’ yang dibaca tasydid.

Membaca tasydidi huruf shad dalam kalimat al-mubarakatus-shalawat.

Membaca tasydidi huruf tha’ dan ya’ yang ada dalam kalimat at-thayyibat.

Membaca tasydid huruf lam jalalalah yang ada dalam kalimat Lil-lahi.

Membaca tasydid huruf sin yang ada dalam kalimat as-salam.

Membaca tasydid huruf ya’, nun, dan ya’ yang ada dalam kalimat ‘alaika ayyuhan-nabiyyu.

Membaca tasydid huruf lam jalalah yang ada dalam kalimat warahmatullah.

Membaca tasydid huruf sin yang ada dalam kalimat wa rahmatul-Lah.

Membaca tasydid huruf lam jalalah yang ada dalam kalimat ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillah.

Membaca tasydid huruf shad yang ada dalam kalimat as-shalihin.

Membaca tasydid huruf lam alif dalam kalimat asyhaduallailaha.

Membaca tasydid huruf lam alif dan lam jalalah yang ada dalam kalimat illa-llah.

Membaca tasydid huruf nun yang ada dalam kalimat wa asyhadu anna.

Membaca tasydid huruf mim, ra’ dan lam yang ada dalam kalimat
Muhammadar-rasulullah.

TASYDID SHALAWAT

فصل
تشديدات اقل الصﻻة على النبى اربع
اللهم على اﻻم و الميم
صل على اﻻم
على محمد على الميم

TASYDID SHALAWAT
Tasydiidaatu Aqollishsolaati ‘Alannabiyyi Shollallaahu ‘Alaihi wasallama Arbaatun :
Allaahumma ‘Alallaami Wal Miimi,
Sholli ‘Alallaami ,
‘Alaa Muhammadin ‘Alal Miimi

Sekurang-kurangnya Tasydid pada sholawat atas Nabi SAW yaitu 4 : Lafazh Allaahumma diatas Huruf Lam dan Huruf Mim ,
Lafazh Sholli diatas Huruf Lam,
Lafazh ‘Ala Muhammadin diatas Huruf Mim

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah,
Bacaat tasydid pada bacaan shalawat nabi yang paling minimal ada empat tempat atau empat huruf.
Membaca tasydid lam dan mim yang ada dalam kalimat Allahumma.
Membaca tasydid huruf lam yang ada dalam kalimat Shalli.
Membaca tasydid huruf mim yang ada dalam kalimat ‘ala Muhammad.

TASYDID SALAM

فصل اقل السﻻم السﻻم عليكم تشديد السﻻم على السين

Sedikitnya pengucapan salam ialah dgn mengucapkan :
" Assalaamu'alaykum "

Tasydidnya Assalaamu itu diatas huruf sin

Wak Sholat

WAKTU SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم

فصل
اوقات الصلاة خمس :
اول وقت الظهر زوال الشمس واخره مسيرظل كل شئ مثلهغيرظل اﻻستوإ

واول وقت العصر اذا صار ظل كل شئ مثله وزادقليﻻ واخره غروب الشمس

واول وقت المغرب غروب الشمس واخره غروب الشفق اﻻحمر

واول وقت العشاء غروب الشفق اﻻحمر واخره طلع الفجر الصادق

واول وقت الصبح طلع الفجر الصادق واخره طلع الشمس

WAKTU SHOLAT
Awqootushsholaati Khomsun :
◆Awwalu Waqtizhzhuhri Zawaalusysyamsi Wa Aakhiruhu Mashiiru Zhilli Kulli Syaiin Mitslahu Ghoyro Zhillil Istiwaa-i،

◆Wa Awwalu Waqtil ‘Ashri Idzaa Shooro Zhillu Kulli Syaiin Mitslahu Wazaada Qoliilan Wa Aakhiruhu Ghuruubusysyamsi ,

◆Wa Awwalu Waqtil Maghribi Ghuruubusysyamsi Wa Aakhiruhu Ghuruubusysyafaqil Ahmari ,

◆Wa Awwalu Waqtil ‘Isyaa-i Ghuruubusysyafaqil Ahmari Wa Aakhiruhu Thuluu’ul Fajrishsoodiqi ,

◆Wa Awwalu Waqtishshubhi Thuluu’ul Fajrishshoodiqi Wa Aakhiruhu Thuluu’usysyamsi.

الشفاق ثﻻثة :
احمر
واصفر
وابيض

اﻻحمر مغرب واﻻصفر واﻻبيض عشاء
ويندب تأخر صﻻت العشاء الى ان يغيب الشفق اﻻصفر واﻻبيض

Al-Asyfaaqu Tsalaatsatun :
Ahmaru, Wa Ashfaru,
Wa Abyadhu,
Al-Ahmaru Maghribun Wal-Ashfaru Wal-Abyadhu ‘Isyaa-un.
Wa YUndabu Ta’khiiru Sholaatil ‘Isyaa-i Ilaa An Yaghiibasysyafaqul Ashfaru Wal Abyadhu.

Al-Asyfaaqu Tsalaatsatun :
Ahmaru , Wa Ashfaru , Wa Abyadhu.
Al-Ahmaru Maghribun Wal-Ashfaru Wal-Abyadhu ‘Isyaa-un.
Wa YUndabu Ta’khiiru Sholaatil ‘Isyaa-i Ilaa An Yaghiibasysyafaqul Ashfaru Wal Abyadhu

Waktu-waktu Sholat itu ada5 :
◆Awal waktu Zhuhur yaitu gelincirnya matahari dan akhirnya kembali bayang-bayang tiap-tiap sesuatu akan misalnya selain bayang-bayang istiwa ,

◆dan awal waktu Ashar yaitu apabila jadi bayang-bayang tiap-tiap sesuatu akan misalnya dan bertambah sedikit dan akhirnya terbenam matahari ,

◆dan awal waktu Maghrib yaitu terbenam matahari dan akhirnya terbenam syafaq merah ,

◆dan awal waktu ‘Isya yaitu terbenam syafaq merah dan akhirnya terbit fajar shodiq,

◆dan awal waktu Shubuh yaitu terbit fajar shodiq dan akhirnya terbit matahari .

Syafaq-syafaq atau mega-mega itu ada3 :
Merah , dan Kuning dan Putih
Mega Merah yaitu Maghrib dan Mega Kuning dan Mega Putih yaitu ‘Isya.
Dan disunahkan menta’khirkan Sholat ‘Isya hingga hilang Syafaq atau Mega Kuning dan Mega Putih .

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah,
Waktu shalat fardhu ada lima.

Pertama, permulaan waktu dzuhur yaitu bergesernya matahari dan akhir waktu dzuhur adalah dengan sekiranya bayangan matahari sama dengan sesuatu yang memiliki bayangan kecuali bayangan pada waktu istiwa’. Artinya jika ada tongkat yang panjangnya satu meter kemudian terkana sorot matahari, maka bayangan matahari sama satu meter selaras dengan ukuran panjangnya tongkat.

Kedua, permulaan waktu ashar adalah ketika bayangan sesuatu sama dengan sesuatu yang dibayanginya itu dan ada lebihan sedikit. Seperti jika tongkat satu meter maka bayangannya adalah satu meter, dan ada lebihan sedikit dari satu meter. Dan akhir waktunya adalah tenggelamnya matahari.

Ketiga, permulaan waktu maghrib adalah tenggelamnya matahari dan akhir waktunya adalah tenggelamnya mega merah.

Keempat, permulaan waktu Isa bermula dari tenggelamnya mega merah dan akhir waktu adalah munculnya fajar shadiq.

Kelima, permulaan waktu Subuh bermula dari munculnya fajar shadiq dan akhir waktu subuh ditandai dengan munculnya matahari.
Jenis mega ada tiga, yaitu mega merah, kuning dan putih. Mega merah adalah tanda memasuki waktu maghrib. Mega kuning dan putih adalah waktu Isa. Disunahkan mengerjakan shalat Isa di akhir waktu sampai hilangnya mega kuning dan putih

DIHARAMKAN SHALAT

WAKTU YANG DIHARAMKAN UNTUK MELAKUKAN SHALAT

بسم الله الرحمن الرحيم
فصل
تحرم الصﻻة التى ليس لها سبب متقدم وﻻ مقارن فى خمسة اوقات :
عندطلع الشمس حتىترتفغ قدر رمح
وعند اﻻستواء فى غير يوم الجمعة حتى تزول
وعند اﻻسفرتر حتى تغررب
وبعد صﻻة الصبح حتى تطلع الشمس
و بعد الصﻻة العصر حتى تغرب

Tahrumushsolaatu Allatii Laisa Lahaa Sababun Mutaqoddimun Walaa Muqoorinun Fii Khomsati Awqootin :

‘Inda Thuluu’isysyamsi Hattaa Tartafi’a Qodro Rumhin,

Wa’indal Istiwaa’i Fii Ghoyri Yaumil Jumu’ati Hattaa Tazuula,

Wa’indal Ishfiroori Hattaa Taghruba,

Waba’da Sholaatishshubhi Hattaa
Tathlu’asysyamsu,

Waba’da Sholaatil ‘Ashri Hattaa Taghruba.

Haram untuk melakukan sholat yang tidak ada baginya sebab yang terdahulu dan tidak juga bersamaan pada 5 waktu :

Ketika terbit matahari sehingga naik sekedar satu tombak,

dan ketika Istiwa pada selain hari Jum’at hingga tergelincir matahari,

dan ketika Ishfiror hingga terbenam,

dan setelah Sholat Shubuh hingga terbit matahari,

dan setelah Sholat ‘Ashar hingga terbenam matahari.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah,

Diharamkan melaksanakan shalat,
yang tanpa sebab yang mendahului atau menyertainya,
dalam lima waktu.

Pertama, haram melaksanakan shalat pada saat munculnya matahari sampai matahari naik ke atas sekiranya sepanjang tombak.
Yang dimaksud dengan tumbak adalah kira-kira panjangnya tumbak adalah tujuh lengan tangan manusia.

Kedua, diharamkan shalat di waktu istiwa’ di selain hari Jumat sampai bergesernya matahari.

Ketiga, diharamkan shalat pada saat remang-remangnya matahari sampai lenyapnya matahari.

Keempat, diharamkan shalat setelah shalat subuh.

Kelima, diharamkan shalat setelah shalat Asar sampai tenggelamnya matahari.


بسم الله الرحمن الرحيم

فصل سكتات الصﻻة سة
- بين تكبير اﻻحرام ودعاءﻻفتتاح
- و بين دعاءﻻفتتاح والتعوذ
- وبين التعوذ والفاتحة
- و بين الفاتحة و آمين
- وبين آمين والسورة
- وبين السورة والركوع

DIAMNYA SHALAT
Saktaatushsolaati Sittun :
- Baina Takbiirotil Ihroomi Wadu’aa-il Iftitaahi,
- Wabaina Du’aa-il Iftitaahi Watta’awwudzi،
- Wabainatta’awwudzi Wal Faatihati،
- Wabaina Aakhiril Faatihati Wa Aamiina،
- Wabaina Aamiina Wassuuroti،
- Wabainassuuroti Warrukuu’i.

Tempat diamnya sholat itu ada 6 :
- Antara Takbirotul Ihrom dan Do’a Iftitah,
- dan antara Do’a Iftitah dan bacaan Ta’awwudz,
- dan antara bacaan Ta’awwudz dan Fatihah,
-dan antara akhir Fatihah dan bacaan Amin,
- dan antara bacaan Amin dan Surat pendek,
- dan antara Surat pendek dan ruku’.

Syarh atau Penjelasan

Diam dalam shalat terdapat pada enam tempat.

Pertama, diam di antara takbirat al-ihram dan doa al-iftitah,
Pada saat diam tersebut disunahkan seorang yang melakukan shalat untuk membaca doa

اني وجهت وجهي للذى فطراسموات واﻻرض حنيفامسلما وما انا من المشركين
ان تلصﻻتي ونسكي ومحيي وممتي لله رب العالمين ﻵشرك له ز بذالك امرت وانا من المسلمين

"Inny wajjahtu wajhiyalilladzi fatharas-samawati wa al-ardla hanifan musliman wa ma ana min al-musyrikin inna-shalaty wa nusuky wa mahyaya wa mamaty lilahi rabbil-‘alamina
la syarikalahu wa bi-dzalika umirtu wa ana min al-muslimin”.

Kedua,diam di antara doa ta’awwudl dan doa al-iftitah. Disunnahkan membaca doa
اعوذبالله من الشيطان الجيم

“a’udzhu billaahi minasy-syaythoonir-rajiiim”.

Ketiga, diam di antara bacaan surah al-fatihah dan doa ta’awwudz.

Keempat, diam (saktah) di antara akhir surah al-fatihah,
yaitu kalimat ad-dzallin dan Amin.

Diam di antara akhir surah al-fatihah dan Amin disunahkan dengan membaca doa

رب اغفرلى
وارحمنى
واجبرنى
وارزقنى
وارفعنى
واهدنى
وعافنى
واعف عنى
“Rabbi ighfir ly,
Warham ny
Wajbur ny
Warzuq ny
Warfa' ny
Wahdi ny
Wa'aafi ny
Wa'fu 'any

Kelima, diam diantara Amin dan bacaan surah.

Keenam, diam di antara membaca surah dan ruku’.

WAJIB TUMA'NINAH

TUMA'NINAH
===========

بسم الله الرحمن الرحيم

اركان التى تلزم فيها التمئنينة اربعة

افركوع واﻻعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين
WAJIB TUMA'NINAH
Al-Arkaanu Allatii Talzamu Fiihaththuma’niinatu Arba’atun :
Arrukuu’u , Wali’tidaalu , Wassujuudu , Waljuluusu Bainassajdataini.

Rukun-rukun sholat yang wajib padanya Tuma’ninah itu ada 4 :
Ruku , dan I’tidal , dan Sujud , dan duduk diantara dua sujud.

الطماءنينة هي سكون بعدالحركات بحيث يستقر كل عضو محله بقدر سبحن الل

Ath-Thuma’niinatu Hiya Sukuunun Ba’da Harkatin Bihaitsu Yastaqirru Kullu ‘Udhwin Mahallahu Biqodri Subhaanalloohi.

Tuma’ninah yaitu diam setelah bergerak dengan sekira-kirra,
diam tetap seluruh anggota pada tempatnya dengan sekedar bacaan Subhanalloh.

SEBAB2 SUJUD SAHWI

بسم الله الرحمن الحيم
فصل اسباب سجود السهو اربعة :
● اﻻول ترك بعض من ابعاض الصﻻة او بعض البعض
● الثانى فعل مايبطل عمده وﻻ يبطل سهوه اذا فعله ناسيا
● الثالث نقل ركن قولى الى غيرمحله
● الرابع ايقاع ركن فعلى مع احتماله الزبادة

FASLUN.
ASBAABU SUJUUDIS-SAHWI ARBA’ATUN.
● AL-AWWALU TARKU BA’DLIN MIN AB’AAFLISH-SHALATI AU BA’DLIL-BA’DLI.
● ATS-TSAANI FI’LU MAA YUBTHILU ‘AMDUHU WA LA YUBTHILU SAHWUHU IDZAA FA’ALAHU NASIYAN.
● ATS-TSAALITSU NAQLU RUKNIN QAULIYYIN ILAA GHAYRI MAHALLIHI.
● AR-RABI’U IY_QO’U RUKNIN FI’LIYYIN MA’A IHTIMAALIHIZ-ZIYADAATI

Sebab2 sujud sahwi itu ada empat, yaitu:
1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat
(pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meniggalkannya).

2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja,
dan tidak membatalkan jika ia lupa.

3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.

4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah,

Ada empat sebab dilaksanakannya sujud sahwi.
Namun sebelum merinci satu persatu,
terlebih dahulu kita definisikan dulu sahwi yang dimaksud tersebut.

Secara lughowi/bahasa sahwi berarti lalai atau lupa terhadap sesuatu.

Sedangkan menurut arti syara’, sahwi yang dimaksudkan adalah melalaikan sesuatu yang tertentu dari shalat seperti sebagian rukun shalat pada umumnya.

Pertama, sujud sahwi dilakukan dengan sebab meninggalkan sebagian dari sunah-sunah ab’adl yang ada tujuh.

Kedua, sujud sahwi dilakukan dengan sebab mengerjakan sesuatu yang jika dikerjakan secara sengaja maka akan dapat membathalkan shalat dan jika dikerjakan karena lupa maka tidak membatalkan.

Ketiga, sujud sahwi dilakukan dengan sebab memindah satu rukun qauly (bersifat ucapan) pada tempat yang lain.

Keempat, sujud sahwi dilaksanakan dengan sebab melaksanakan satu rukuh fi’li (bersifat pekerjaan) dengan anggapan bahwa apa yang telah dikerjakannya merupakan rukun tambahan yang tanpa sengaja dilakukannya

Ab'adussholat


AB'ADUSSHALAT

فصل ابعاض الصﻻة سبعة
¤ اتشهدﻻول
¤ وقعده
¤ والصﻻة على النبى صلى الله عليه وسلم فيه
¤ والصﻻة على اﻵل فى التشهداﻻخر
¤ والقنوت
¤ وقيامه
¤ والصﻻة والسﻻم على النبى صل الله عليه وسلم واله وصحبه فيه

AB'AADUSSHALATI

FASLUN AB’AADHUSH-SHOLATI SAB’ATUN.
◆AT_TASYAHHUDUL-AWWALU
◆WA QU’UDUHU
◆WASH-SHOLATU ‘ALAN-NABIYYI SHOLALLOHU'ALAY WA SALAM FIIHI
◆WASH-SHOLATU ‘ALAL-ALI FIT_TASYAHUDIL AKHIRI
◆WA AL-QUNUUTHU
◆WA QIYAMUHU
◆WASH-SHOLATU WAS-SALAMU ‘ALAN-NABIYYI WA ALIHI WA SAHBIHI FIHI

Sunah Ab’adlnya sholat itu ada tujuh :
1. Tasyahud awal
2. Duduk tasyahud awal.
3. Membaca Shalawat kepada nabi Muhammad SAW ketika tasyahud awal.
4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.
5. Do’a qunut.
6. Berdiri (ketika) do’a qunut.
7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah An-Najah
(Kaasyifatusajaa)

Sunah ab’adl Shalat ada tujuh (7).

Sebelum merinci satu persatu sunnah ab’adl,
terlebih dahulu kita akan menjelaskan definisi sunnah ab’adl.

Definisi sunnah ab’adl adalah rukun-rukun shalat yang sunnah dilaksanakan, dan apabila ditinggalkan dengan sebab lalai atau yang lainnya maka disunnahkan sujud sahwi sebagai ganti dari rukun yang telah ditinggalkannya tersebut.

Pertama, tasyahhud awal.

Kedua, duduk dalam tasyahhud awwal.

Ketiga, membaca shalawat Nabi dalam tasyahhud awal, maksudnya membaca shalawat Nabi setelah membaca tasyahhud awal.
Jika pada waktu melaksanakan shalat berjamaah, sang imam meninggalkan atau tidak melaksanakan tasyahhud awal, maka makmum tidak boleh melaksanakan tasyahhud, dan makmum harus mengikuti imam.

Keempat, membaca shalawat pada keluarga Nabi dalam tasyahhud akhir.

Kelima, membaca qunut dalam shalat subuh dan shalat witir di pertengahan akhir bulan Ramadhan.
Berbeda dengan qunut an-nazilah yang disunnahkan di setiap shalat.
Qunut adalah dzikir tertentu yang di dalamnya mencakup doa dan pujian pada Allah.
Dan qunut tidak ditentukan sighat-nya atau dengan kata lain rangkaian kalimatnya bebas yang penting di dalamnya mengandung doa dan pujian pada Allah.
Seperti Allahumma ighfir ly ya ghafur (Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, wahai dzat yang maha pengampun).
Atau rangkaian doa-doa yang lainnya.

Kata qunut berasal dari kata qanata yang artinya patuh dalam mengabdi (kepada Allah).
Di dalam Islam, qunut terbagi menjadi dua, sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Pertama; qunut nazilah yaitu qunut yang dilakukan atau dibaca saat adanya bencana.
Dan dilakukan kapan saja dan shalat apa saja.

Kedua; qunut shalat yaitu qunut yang dibaca pada waktu i’tidal (berdiri setelah ruku’) setiap akhir raka’at pada shalat subuh dan shalat whitir (secara umum) karena dalam masalah qunut ini para imam dan ulama mazhab berbeda pendapat tentang pelaksanaannya.

Namun menurut penulis kitab ini, Safinah an-Najah yang bermadzhab as-Syafi’iyah tetap menganggap qunut adalah sunnah dilaksanakan.
Sedangkan hukum doa qunut itu sendiri adalah Sunnah ab’ad atau sunnah yang diperkuat.

Ada bacaan doa qunut yang pada umumnya dilaksanakan oleh umat Islam,
sebagai berikut;

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Keenam, melaksanakan qunut dengan cara berdiri.

Ketujuh, membaca shalawat dan salam pada Nabi,
keluarganya dan para sahabatnya dalam kalimat doa qunut.

PEMBATAL SHALAT

PERKARA YANG DAPAT MEMBATALKAN SHOLAT

بسم تلله اارجمن الرحيم
فصل تبطل الصﻻة بأربع عشرة خصلة
◆ بالحدث
◆ وبوقوع النجاسة ان لم تلق حﻻ من غير حمل
◆ وانكشاف العورة ان لم تستر حاﻻ
◆ والنطق بحرفين او بحرف مفهم عمدا
◆ وبالمفطر عمدا
◆ واﻻكل الكثير ناسيا
◆ و ثﻻث حركات متواليات ولو سهوا
◆ والوثبة الفاحشة
◆ والضربة المفرطة
◆ والزدة ركن فعلى عمدا
◆ والتقدم على إمامه بركنين فعليين
◆ والتخلف بهما بغير عذر
◆ ونية قطع الصﻻة
◆ وتعليق قطعهابشئ والتردد فى قطعها

PEMBATAL SHALAT

FASLUN TABTULU ASH-SHOLAATU BI_ARBA’I ASYAROTA KHASLATAN.

◆BIL-HADATSI

◆WA BI-WUQU’IN-NAJASATI IN_LAM TULQA HALAN MIN GHOYRI HAMLIN

◆WA_NKISYAFIL-‘AURATI IN LAM TUSTAR HALAN.

◆WAN-NUTQU BI-HARFAYNI AW BI-HARFIN MAFHUMIN ‘AMDAN.

◆WABIL-FITHRATI ‘AMDAN

◆WAL-AKLUL-KATSIRU NASIYAN.

◆WATSALAASTU HARAKATIM_MUTAWALIYATIN WA LAU SAHWAN.

◆WAL-WATSABATUL-FAHISYATU

◆WAL-MADLRUBATUL-MUFRITHOTU

◆WA ZIYADATU RUKNIN FI’LIYYIN ‘AMDAN.

◆WATTAQODDAMA ‘ALA IMAMIHI BI-RUKNAYNI FI’LIYAYYNI

◆WAT-TAKHOLLUFU BIHIMA BIGHAYRI ‘UDZRIN.

◆WA NIYATU QOT’ISH-SHOLATI

◆WA TA’LIIQU QAT’IHA BI-SYAIIN
WAT-TARODDUDU FI QOT’IHA.

Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:

1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).
2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).
3. Terbuka aurat, jika tidak dihilangkan seketikas.
4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.
5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat yang luas.
9. Memukul yang keras.
10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.
11. Mendahului imam dengan dua rukun fi’li dengan sengaja.
12. Terlambat denga dua rukun fi’li tanpa udzur.
13. Niat yang membatalkan shalat.
14. Mensyaratkan berhenti shalat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah

Ada empat belas sebab yang dapat membatalkan shalat.

Pertama, hadats.
Baik disengaja atau tidak disengaja seperti dipaksa, seumpama perut seseorang ditekan oleh orang lain sampai mengeluarkan kotoran dari pantantnya, maka tetap membatalkan shalat. Dalam hal ini ada hadits sahih sebagai landasan dalilnya, yang mengatakan bahwa :
“jika salah satu dari kalian kentut pada waktu melaksanakan shalat, maka shalatnya rusak (batal) dan hendaklah berwudhu kembali dan mengulangi melaksanakan shalat lagi.”

Kedua, kejatuhan najis jika tidak dibuang segera agar sampai tidak terbawa dalam melaksanakan shalat.
Yang dimaksud dengan najis tersebut adalah najis yang tidak dapat dimaklumi oleh syariat (la yu’fa ‘anhu).
Jika kejatuhan najis yang dapat dimaklumi syariat (yu’fa ‘anhu) maka tidak membatalkan shalat.
Baik najis itu jatuh pada baju atau pada badan seseorang yang sedang shalat.

Ketiga, terbukanya aurat yang wajib ditutupi ada waktu shalat. Terbukanya tersebut baik sebagian atau secara keseluruhan anggauta badan yang dianggap aurat, meskipun shalatnya dilakukan sendirian dalam kesunyian dari hiruk pikuk manusia. Seperti jika angin kencang menyibak gaun atau pakean yang dapat membukakan aurat seorang yang sedang shalat, maka tidak membatalkan shalatnya jika sesegera mungkin kembali menutupnya.
Tapi jika angin berulang-ulang kali menyingkap auratnya yang harus secara cepat ditutupnya kembali sekiranya seseorang yang bergerak berkali-kali demi menutupnya maka akan membatalkan shalat karena melakukan gerak berkali-kali dan berulang-ulang.

Keempat, mengucapkan secara sengaja dua huruf (meski tidak dapat difahami atau tidak mengandung makna tertentu) secara runut atau satu huruf yang dapat difahami.
Contoh satu huruf yang mengandung makna yang dapat difahami yaitu huruf Qaf, dengan mengatakan Qi, sebab Qi adalah kalimat fi’il al-amar (kata perintah) dari akar kata wiqayah yang artinya menjaga. Berarti kata qi mengandung arti “jagalah”.
Dengan demikian jika seseorang yang sedang shalat mengucapkan Qi, maka shalatnya batal.
Ada pengecualian yang tidak dapat membatalkan shalat, yaitu dehem bagi orang shalat yang sedang berpuasa yang betujuan mengeluarkan riak dan lendir, sebab jika riak dan lendir tidak dkeluarkan melalui dehem maka akan tertelannya dan itu artinya akan membatalkan shalat.
Di antara yang tidak membatalkan shalat adalah tabassum (mesem atau tersenyum).

Kelima, segala sesuatu yang membatalkan puasa akan membatalkan shalat jika disengaja melaksanakannya.
Seperti memasukkan kayu atau apa saja kedalam lubang seperti mulut atau kuping atau dubur. Sudah pasti jika seseorang makan—meski banyak—disebabkan lalai atau lupa maka tidak membatalkan puasa, tapi tetap membatalkan shalat.

Keenam, makan banyak dalam keadaan lupa atau lalai tetap membatalkan shalat.
Kecuali makan sedikit disebabkan lupa atau lalai atau tidak tahu maka tidak membatalkan shalat.

Ketujuh, tiga kali gerak secara berturut-turut meski pun dalam keadaan lupa atau lalai.
Yang dimaksud dengan gerak yang membatalkan shalat adalah gerak tubuh yang bukan gerakan yang kecil, seperti pergerakan kaki, geleng-geleng kepala, atau goyang-goyang badan. Jika gerakan yang kecil seperti gerakan jari diputar-putar atau bergaruk-garuk dengan satu jari digerak-gerakkan maka tidak membatalkan shalat.

Kedelapan, melumpatkan badan secara ekstrim.

Kesembilan, memukul secara keras.

Kesepuluh, menambah satu rukun shalat secara sengaja. Tentunya jika lupa atau lalai maka tidak membatalkan shalat.

Kesebelas, mendahului dua rukun yang bersifat pekerjaan (bagi makmum) pada imam atau mengakhiri keduanya secara sengaja.

Kedua belas, niat memutus atau keluar dari shalat.

Ketiga belas, menggantungkan pemutusan shalat dengan sesuatu. Seperti dalam hati mengatakan jika saya keluar dari shalat maka saya akan berbelanja di pasar. Atau meskipun menggantungkan pemutusan shalat dengan sesuatu yang mustahil terjadi sekalipun akan membatalkan shalat.

Keempat belas, bingung atau bimbang apakah akan keluar atau memutuskan shalat atau tidak, maka kebingungan (taraddud) ini akan membatalkan shalat. Sama halnya juga kebimbangan dalam melanjutkan shalat pun membatalkan shalat. Intinya kebimbangan antara akan memutuskan shalat atau melanjutkannya adalah membatalkan shalat.

Demikian perkara yang dapat membatalkan sholat menurut kitab Safinatun Najah,
Semoga bermanfa'at...



Wajib bagi seseorang yang mengimami

بسم الله الرحمن الرحيم

فصل الذى يلزم فيه نية اﻻمامة اربع :
الجمعة

FASLUN. AL-LADZI YALZAMU FIIHI NIYATUL-IMAMATI ARBA’UN
ALJUM'ATU
Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat sholat, yaitu :
Pertama, shalat Jum’at. Sebab shalat Jum’at wajib dilaksanakan secara berjamaah, yang meniscayakan adanya imam dan makmum.

والمعتدة
WALMU'ADDATU
Kedua, shalat mu’adah.
Yang dimaksud dengan shalat mu’adah yaitu shalat yang dilaksadakan dua kali seperti shalat dzuhur yang dikalsanakan dua kali, maka yang kedua adalah mu’adah, atau setelah shalat Jum’at dilaksanakan shalat dzuhur maka shalat dzuhur itu adalah shalat mu’adah.
Atau shalat sunnah yang disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah.

والمنذرة جمعاة
WAL MANDZUROTU JAMAA'ATAN
Ketiga Menjadi imam dalam sholat Nadzar,
Yakni Sholat yang dinadzari secara berjama'ah

والمقدكة فى المطر

WA AL-MUTAQADDIMATU FIL MATHORI
Keempat, Menjadi imam shalat jamak taqdim secara berjamaah disebabkan hujan.

________
________

MAKMUM DAN IMAM

فصل شروط القدوة أحد عشر
◆ ان ﻻيعلم بطلن صﻻة امامه بحدث او غيره
◆ وان ﻻيعتقد وجوب قضاءها عليه
◆ وان ﻻيكون مأموما

وﻻ اميا
◆ وان ﻻيتقدم عليه فى الموقف
◆ وان يعلم انتقاﻻت امامه
◆ وان يجتمعا فى مسجد أو فى ثلثمائة ذرتع تقريبا
◆ وان ينوى القدوة اوالجماعة
◆ وان يتوافق نظم صﻻتهما
◆ وان ﻻيخالفه فى سنة فاحشة المخالفة
◆ وان يتابعه

FASHLUN SYURUTHUL-QUDWATI AHADA ‘ASYARA
◆ AN-LA YA’LAMA BUTHLANA SHALATI IMAMIHI BI-HADATSIN AU GHAIRIHI,
◆ WA AN-LA YA’TAQIDA WUJUBA QADLAIHA ‘ALAIHI,
◆ WA AN-LA YAKUNA MA’MUMAN
◆ WA LA UMMIYYAN,
◆ WA AN-LA YATAQADDAMA ‘ALAIHI FI AL-MAUQUFI
◆ WA AN-LA YA’LAMA INTIQALATI IMAMIHI,
◆ WA AN-LA YAJTAMI’A FI MASJIDIN AU FI TSULUTSI MIAH DZIRA’IN TAQRIBAN,
◆ WA AN YANWIYA AL-QUDWATA AU AL-JAMA’ATA,
◆ WA AN-YATAWAFAQA NADZMU SHALATIHIMA,
◆ WA AN-LA YUKHALIFAHU FI SUNATIN FAKHISYATIN AL-MUKHTALIFAH
◆ WA AN-YUTABI’AHU.

Syarat – Syarat ma`mum mengikut imam ada sebelas perkara, yaitu:
1- Tidak mengetahui batal nya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.
2- Tidak meyakinkan bahwa imam wajib mengqadha` shalat tersebut.
3- Seorang imam tidak menjadi ma`mum .
4- Seorang imam tidak ummi (harus baik bacaanya).
5- Ma`mum tidak melebihi tempat berdiri imam.
6- Harus mengetahui gerak gerik perpindahan perbuatan shalat imam.
7- Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.
8- Ma`mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.
9- Shalat imam dan ma`mum harus sama cara dan kaifiyatnya
10- Ma`mum tidak menyelahi imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.
11- Ma`mum harus mengikuti perbuatan imam.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinatun-Najah
Syarat makmum ada sebelas (11).
Pertama, seorang makmum tidak tahu atau tidak menyangka terhadap batalnya shalat sang imam disebabkan hadats atau sebab yang lainnya. Dengan demikian maka tidak sah shalatnya seseorang makmum yang menyangka batal shalatnya sang imam, seperti makmum yang bermadzhab As-Syafi’i bermakmum pada imam yang yang bermadzhab Hanafi yang tidak menganggap batal shalat seseorang yang memegang farji (alat kelamin) sedangkan menurut makmum yang bermadzhab As-Syafii dianggap batal.
Sebagaimana makmum yang bermadzhab as-Syafii meyakini bahwa membaca Basmalah adalah wajib dalam surah al-fatihah bermakum pada imam yang bermadzhab Hanafi yang tidak mewajibkan membaca Basmalah dalam surah al-fatihah, maka shalatnya makmum tidak sah atau batal dan wajib mengulangi shalatnya (i’adah).

Kedua, makmum tidak menyangka atau menduga akan kewajiban qadha shalat bagi imam.
Maksudnya adalah tidak sah seseorang yang bermakmum pada seseorang yang shalatnya wajib diulang atau diqadha seperti shalatnya seorang yang bertayammum karena udara dingin.

Ketiga, seseorang yang bermakmum tidak dalam kapasitas menjadi makmum pada orang lain.
Artinya jika si A bermakmum pada si B, maka tidak sah jika si A pada saat yang sama juga bermakmum pada si C. Sebab seorang yang bersetatus menjadi makmum tidak boleh bermakmum pada orang lain.

Keempat, seseorang tidak bermakmum pada orang yang bodoh dalam masalah agama.

Kelima, seorang makmum tidak berdiri di depannya imam.

Keenam, seorang makmum harus mengetahui pergerakan atau perpindahan dari satu rukun ke rukun yang lain yang dilaksanakan sang imam.
Untuk mengetahui gerakan sang imam, makmum bisa mengetahuinya dengan melihat dengan mata kepala sendiri, atau dengan melihat bagian barisan (shaf) yang ada di depannya, atau dengan mendengera suara sang imam, atau dengan mendengar suara muballigh (penyampai suara imam).

Ketujuh, berkumpul antara makum dan imam dalam satu masjid atau tempat atau antara makum dan imam berkumpul pada tempat yang lebar atau jaraknya sekitar 300 dzirah (lengan tangan anak Adam). Artinya tidak dalam dua tempat atau ruangan yang berbeda dimana keduanya terpisah dan tersekat makmum dan imam sehingga sang makmum tidak mengetahui apa-apa atas keberadaan imam.

Kedelapan, makmum harus berniat mengikuti atau berjamaah shalat dengan sang imam.

Kesembilan, runutan shalat imam dan makmum harus seirama dan harmonis.

Kesepuluh, sang makmum tidak boleh berpaling dari pekerjaan sang imam berupa kesunahan. Seperti jika imam melaksanakan sujud tilawah maka makmum harus melaksanakannya juga.

Kesebelas, makmum harus senantiasa mengikuti seluruh gerak-gerik sang imam yang sesuai dengan syarat dan rukun shalat dan tidak bertentangan dengan tatacara shalat.
Jika sang imam telah menyimpang dari tatacara yang benar atau dari syarat dan rukun shalat, maka sang makmum wajib mufaraqah (memisahkan diri) dari sang imam.

◇◇◇◇◇☆☆☆☆☆ SAHNYA BERJAMA'AH ☆☆☆☆☆◇◇◇◇◇

بسم الله الرحمن الرحيم

[ فصل ] صور القدوة تسع
تصح غى خمس
◆ قدوة رجل برجل
◆ وقدوة إمرأة برجل
◆ وقدوة خنثى برجل
◆ وقدوة إمرأة بخنثى
◆وقدوة غمرأة بإمراة

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIIM
FASLUN. SHUWARUL-QUDWATI TIS’UN TASIHHU FI KHOMSIN. ◆ QUDWATU ROJULIN BI-ROJULIN.
◆ WA QUDWATU IMROATIN BI-ROJULIN.
◆ WA QUDWATU KHUNTSA BI-ROJULIN.
◆ WA QUDWATU IMROATIN BI-KHUNTSA.
◆ WA QUTWATU IMROATIN BI-IMROATIN.

Ada lima golongan orang–orang yang sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki –laki mengikut laki – laki.
2- Perempuan mengikut laki – laki.
3- Banci mengikut laki – laki.
4- Perempuan mengikut banci.
5- Perempuan mengikut perempuan.

وتبطل فى اربع
◆ قدوة رجل بإمرأة
◆ وقدوة رجل بخنثى
◆ وقدوة خنثى بغمرأة
◆ وقدوة خنثى بخنثى

WA TABTHULU FI ARBA’IN.
◆ QUDWATHU ROJULIN BI-IMROATIN.
◆ WA QUDROTU ROJULIN BI-KHUNTSA.
◆ WA QUBROTU KHUNTSA BI-IMRAATIN.
◆ WA QUDROTU KHUNTSA BI-KHUNTSA.

Ada empat golongan orang – orang yang tidak sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki – laki mengikut perempuan.
2- Laki – laki mengikut banci.
3- Banci mengikut perempuan.
4- Banci mengikut banci.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Gambaran bermakmum yang dimungkinkan dan sesuai dengan aturan syairat Islam ada sembilan (9),
yang kelima (5) dianggap sah dan yang empat dianggap tidak sah.

Adapun yang lima gambaran yang dianggap sah shalat dan jama’ahnya yaitu
Pertama, bermakumnya laki-laki pada sang imam yang juga laki-laki.

Kedua, perempuan bermakmum pada imam dari golongan laki-laki.

Ketiga, Banci (khuntsa) yang memiliki dua jenis kelamin bermakmum pada imam dari golongan laki-laki.

Keempat, perempuan bermakmum pada imam dari golongan khuntsa (manusia yang memiliki dua jenis kelamin). Dan

kelima, perempuan bermakmum pada golongannya sendiri yaitu perempuan.

Sedangkan empat gambaran bermakmum yang dianggap tidak dapat disahkan dan dibenarkan yaitu
Pertama, laki-laki bermakmum pada imam dari golongan peremuan.

Kedua, laki-laki bermakmum pada imam dari golongan khuntsa (banci yang berkelamin dua).

Ketiga, khuntsa (banci yang berkelamin dua) bermakmum pada imam dari golongan perempuan.

Dan keempat, khuntsa bermakmum pada imam dari golongannya sendiri yaitu khuntsa.

Sholat Jama


SHOLAT JAMA'

بسم الله الرحمن الرحيم
فصل شروط جمع التقدم أربعة
البداءة باﻻولى
ونية الجمع فيها
والموﻻة بينهما
ودوام العذر

FASLUN SYURUUTHU JAM’IT-TAQDHIMI ARBA’ATUN.
AL-BADAATU BIL-ULA
WA NIYATUL-JAM’I FIHA,
WAL-MUWALAT BAYNAHUMA
WA DAWAMUL-‘UDZRI.

Ada empat, syarat sah jamak taqdim (mengabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:
1- Di mulai dari shalat yang pertama.
2- Niat jamak (mengumpulkan dua shalat sekali gus).
3- Berturut – turut.
4- Udzurnya terus menerus.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Syarat Jama’ taqdim,
—baik disebabkan karena dalam perjalanan jauh atau disebabkan hujan
—ada empat (4) syarat.
Pertama, harus terlebih dahulu mengerjakan shalat yang pertama dan disusul dengan shalat yang kedua.
Seperti jika seseorang yang menjama’ anatara shalat dzuhur dan asar, maka terlebih dahulu mengerjakan shalat dzuhur dan kemudian disusul dengan shalat asar.
Jika dibalik, melaksanakan shalat asar terlebih dahulu kemudian shalat dzuhur, maka shalatnya tidak sah.
Sebab yang mengikuti (tabi’) tidak boleh mendahului yang diikuti (matbu’).

Kedua, niat shalat jama’ pada saat melaksanakan shalat yang pertama.

Ketiga, dilaksanakan secara berurutan antara kedua shalat.

Artinya antara satu shalat yang pertama dengan shalat yang kedua tidak disela-selai oleh pekerjaan yang lain.

Keempat, adanya udzur yang kontinu. Seperti perjalanan panjang dan hujan yang deras. Jika sudah tidak ada perjalanan lagi, sudah ada di rumah dan dalam hidup normal tanpa ada udzur, maka sudah tidak boleh lagi melakukan shalat jama’.

فصل شررط جمع التأخر إثنان
نية التأخيروقد بقى من وقت اﻻولى ما يسعها
ودوام العذر الى تمام الثانية

SYARAT JAMAK TAKHIR
FASLUN. SYURUUTHU JAM’I AT-TA’KHIRI ITSNANI.
NIYATUT-TA’KHIRI, WA QAD BAQIYA MIN WAQTI AL-ULYA MA YASA’UHA
WA DAWAMUL-‘UDZRI ILA TAMAM AT-TSANIYAH.
Ada dua syarat jamak takhir, yaitu:
1- Niat ta’khir (pada waktu shalat pertama walaupun masih tersisa waktunya sekedar lamanya waktu mengerjakan shalat tersebut).
2- Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Syarat melaksanakan shalat jama’ ta’khir ada dua (2).

Pertama, niat mengakhirkan shalat pertama yang sejatinya memiliki waktu yang cukup luas untuk melaksanakan shalat yang pertama itu.
Seperti jika seseorang hendak men-jamah’ ta’khirkan antara shalat dzuhur dan asar, maka terlebih dahulu harus niat mengakhirkan shalat dzuhur, lantaran shalat dzuhur akan dilaksanakan di waktu shalat asar.

Kedua, adanya udzur yang kontinu sampai waktu shalat yang kedua tiba.
Seperti perjalanan jauh yang memakan waktu dari waktu shalat yang pertama, semisal dzuhur, sampai tiba waktu shalat yang kedua, semisal asar, dan kedua waktu tersebut (dzuhur dan asar) tercakup dalam waktu perjalanan.

فصل شروط القصر سبعة
ان يكون سفره مرحلتين
و ان يكون مباحا
والعلم بجوازالقصر
ونية القصرعنداﻻحرام
وان تكون الصﻻة رباعية
ودوام السفر الى تمامها
وان ﻻيقتدى بمتم فى جزء من صﻻته

SYARAT QASAR
FASLUN SYURUUTUL-QOSHRI SAB’ATUN.
ANYAKUNA SAFARUHU MARHALATAYNI,
WA AN YAKUNA MUBAHAN,
WA YA’LAMU BI-JAWAZIL-QOSHRI,
WA NIYATUL-QOSHRI ‘INDAL-IHRAM,
WA AN TAKUNA AS-SHOLATU RUBA’IYATAN,
WA DAWAMUS-SAFARI ILA TAMAMIHA,
WA AN LA-YAQTADIYA BI-MUTAMMIN FI JUZ’IN MIN SHOLATIHI,

Ada tujuh syarat qoshar, yaitu:
1- Jauh perjalanan dengan dua marhalah atau lebih (80,640 km atau perjalanan sehari semalam).
2- Perjalanan yang di lakukan adalah safar mubah (bukan perlayaran yang didasari niat mengerja maksiat ).
3- Mengetahui hukum kebolehan qasar.
4- Niat qasar ketika takbiratul `ihram.
5- Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (tidak kurang dari empat rak`aat).
6- Perjalanan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.
7- Tidak mengikuti dengan orang yang itmam (shalat yang tidak di qasar) dalam sebagian shalat nya.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Syarat shalat qashar ada 7 (tujuh).
Pertama, perjalanannya harus mencapai dua marhalah. Kedua, perjalanannya harus perjalanan yang dibenarkan atau diperbolehkan menurut syariat.
Termasuk juga perjalanan karena hendak melaksanakan kewajiban, seperti perjalanan haji, dan perjalanan dengan tujuan melaksanakan sunnah seperti ziarah kubur.
Jika seseorang yang melakukan perjalanan dengan tujuan bermaksiat, maka tidak diperkenankan meng-qoshar shalat.
Perlu diketahui bahwa perjalanan (safar) seseorang ada tiga macam motivasi atau niat;

1). Al-‘ashi bi as-safar, yaitu perjalanan dengan tujuan melakukan maksiat, seperti begal jalan, merampok, dll.
Jelas sekali perjalanan semacam ini bagi pejalannya tidak boleh melakukan qoshar shalat.
Namun jika di tengah-tengah perjalanan seseorang bertaubat dan memperbaharui niatnya, maka sisa perjalananya boleh digunakan qoshar shalat.

2). Al-‘ashi fi as-safar, yaitu perjalanan dengan tujuan yang benar dan tetap pada rel syariat Islam, namun melakukan maksiat di tengah-tengah perjalanan.
Seperti seorang yang bertujuan haji, tapi di tengah perjalanan ia berzina atau minum khamr (arak), maka sisa perjalanan selanjutnya tidak boleh meng-qoshar shalat.

3). Al-‘ashi bi as-safar fi as-safar, yaitu perjalanan dengan tujuan yang benar dan ketaatan, namun di tengah-tengah perjalanan dirubah untuk tujuan maksiat.

Ketiga, mengetahui diperbolehkannya meng-qoshar shalat.

Keempat, niat qoshar shalat pada saat takbiratul ihram.

Kelima, shalat yang di-qoshar adalah shalat yang empat rakaat, seperti shalat dzuhur, asar dan ‘isya.

Keenam, kontinuitasnya perjalanan secara pasti sampai shalat qoshar selesai dilaksanakan.

Ketujuh, seorang yang hendak meng-qoshar salah tidak boleh makmum pada orang yang itmam(sempurna sholatnya/tidak di Qoshor) dalam sebagian dari shalatnya.

Terjemah kitab safinah annajah


TERJEMAHAN KITAB SAFINATUN NAJAH DAN KASYIFATUS SAJA
Syekh Salim bin Samir Al Hadlromi dan Imam Nawawi Al Jawi


بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيم

ِ
Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
_______________________________________​_____________________________

Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq pada hamba-hambaNya dalam menjalani keutamaan pengabdian dan mencari kesempurnaan kebahagiaan.
Shalawat Salam semoga terhaturkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya yang sinarannya senantiasa berbintang

Dengan di awali basmalah pengajian kitab Safiinatun Najaah dimulai sesuai petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi wa sallam dalam sabdanya :

“Setiap urusan yang baik yang tidak diawali dengan Bismillaahirrahmaanirrahim maka akan terputus dari barokah”.
(HR Abu Daud dan dihasankan oleh Ibnu Shalah )

"Saat Malaikat Jibril datang kepadaku, yang pertama diberikannya kepadaku ialah Bismillaahir rahmaanir rahiimi."
(Darulquthni dan Ibnu Umar r.a. )

ARTI HURUF BA (BI) PADA BASMALAH

Huruf ba (bi) adalah huruf jar yang memiliki ta’aluq (ikatan) pada kalimat sebelumnya yang dalam basmalah ini ta’alluqnya di buang bila di tampakkan kira-kira berbunyi ABTADI-U "aku memulai", Sehingga bismillah berarti "saya atau kami memulai dengan nama Allah". Dengan demikian kalimat tersebut menjadi semacam doa atau pernyataan dari pengucap. Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintah),
"Mulailah dengan nama Allah!"

Huruf bi yang diterjemahkan dengan kata "dengan, bersama" itu dikaitkan dalam benak dengan kata "kekuasaan dan pertolongan". Dengan demikian pengucap basmalah seakan-akan berkata, "dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana"

Pengucapnya seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, apa yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil. Ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama-setelah menghayati arti basmalah ini, ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena ketika itu dia telah menyandarkan dirinya dan bermohon bantuan Allah Yang Maha Kuasa itu.

Dalam kitab tafsir Mariful Qur’an, Mufti Shafi Usmani RA memberikan analisa secara bahasa tentang makna kata bismillah. Menurut beliau kata bismillah terdiri dari 3 suku kata ba, ism dan Allah. Kata ba memiliki 3 konotasi dalam bahasa Arab :
1. Mengekspresikan kedekatan antara dua benda yang satu dengan lainnya hampir tidak memiliki jarak.
2. Mencari pertolongan dari seseorang atau sesuatu
3. Mencari berkah dari seseorang atau sesuatu

Sungguh luas bila seseorang mendalami sekedar arti BA' yang terdapat pada basmalah seperti apa yang pernah di tuturkan oleh Sayyidina Ali Kw. yang dikutip dalam kitab I'aanath thoolibiin “Jika mau aku akan membebani delapan puluh unta untuk memuat makna dari huruf ba dalam kalimat basmalah.”

Seperti halnya pernyataan Imam Assyarbiiny dalam kitab Al-Iqnaa’, “Allah menurunkan sebanyak seratus empat kitab kepada tujuh orang Nabi-Nya, dan seluruh kitab tersebut terkumpul dalam empat kitab, yaitu al-Quran, Taurat, Injil dan Zabur. Dari keempat kitab tersebut terkumpul dalam satu kitab yaitu al-Quran. Dan semua surat yang ada dalam al-Qur`an terkumpul dalam satu surat yaitu al-Fatihah, dan seluruh ayat yang terdapat dalam al-Fatihah terkumpul dalam bismillahir rahmanir rahim.
Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa semua yang terdapat dalam kalimat basmalah terkumpul dalam huruf ba dan semua yang terdapat dalam huruf ba terkumpul dalam titiknya”.

والحكمة في أن الله سبحانه وتعالى جعل افتتاح البسملة بالباء دون غيرها من الحروف وأسقط الألف من اسم وجعل الباء في مكانها أن الباء حرف شفوي تنفتح به الشفة ما لا تنفتح بغيره ولذلك كان أول انفتاح فم الذرة الإنسانية في عهد ألست بربكم بالباء في جواب بلى

Hikmah Allah menjadikan permulaan BASMALAH dengan huruf BA bukan dengan huruf lainnya dan menghilangkan huruf Alif pada kalimat ISMUN dan meletakkan huruf ba di tempatnya :

Huruf BA adalah huruf yang keluar dari bibir yang saat mengucapkannya bibir terbuka berbeda dengan huruf bibir lainnya (Mim dan Wau) seperti halnya saat terbukanya bibir embrio janin manusia kala kala dalam rahim ibunya saat mengikat janji dengan Allah "Bukankah aku Tuhanmu ? janin tersebut menjawab dengan kalimat yang di awali dengan BA juga yaitu BALAA yang artinya, Ya Engkaulah Tuhanku
(I'aanathu thoolibiin I/5)

أن الباء حرف شفوي تنفتح به الشفة ما لا تنفتح بغيره ولذلك كان أول انفتاح فم الذرة الإنسانية في عهد ألست بربكم بالباء في جواب بلى وأنها مكسورة أبدا
فلما كانت فيها الكسرة والانكسار في الصورة والمعنى وجدت شرف العندية من الله تعالى كما قال أنا عند المنكسرة قلوبهم بخلاف الألف فإن فيها ترفعا وتكبرا وتطاولا فلذلك أسقطت

Huruf Ba adalah huruf JAR yang senantiasa dibaca KASRAH (pecah, kalah) menunjukkan keagungan Tuhan dan kebutuhan seorang hamba yang hatinya senantiasa diliputi rasa gelisah (baca pecah) seperti dalam setiap munajat seorang hamba "Aku adalah hamba yang hatinya selalu terpecah"
berbeda dengan alif yang menunjukkan arti tinggi, sombong, panjang, karenanya alif digugurkan dalam lafadz BASMALAH

I'aanath thoolibiin I/5

( فَائِدَةٌ ) قَالَ النَّسَفِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ قِيلَ الْكُتُبُ الْمُنَزَّلَةُ مِنْ السَّمَاءِ إلَى الدُّنْيَا مِائَةٌ وَأَرْبَعَةٌ صُحُفُ شِيثٍ سِتُّونَ وَصُحُفُ إبْرَاهِيمَ ثَلَاثُونَ وَصُحُفُ مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشْرَةٌ وَالتَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْفُرْقَانُ وَمَعَانِي كُلِّ الْكُتُبِ أَيْ غَيْرِ الْقُرْآنِ مَجْمُوعَةٌ فِي الْقُرْآنِ وَمَعَانِي كُلِّ الْقُرْآنِ مَجْمُوعَةٌ فِي الْفَاتِحَةِ وَمَعَانِي الْفَاتِحَةِ مَجْمُوعَةٌ فِي الْبَسْمَلَةِ وَمَعَانِي الْبَسْمَلَةِ مَجْمُوعَةٌ فِي بَائِهَا وَمَعْنَاهَا أَيْ الْإِشَارِيُّ بِي كَانَ مَا كَانَ وَبِي يَكُونُ مَا يَكُونُ زَادَ بَعْضُهُمْ وَمَعَانِي الْبَاءِ فِي نُقْطَتِهَا ا هـ قَالَ شَيْخُنَا ، وَالْمُرَادُ بِهَا أَوَّلُ نُقْطَةٍ تَنْزِلُ مِنْ الْقَلَمِ الَّتِي يُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْخَطُّ لَا النُّقْطَةُ الَّتِي تَحْتَ الْبَاءِ خِلَافًا لِمَنْ تَوَهَّمَهُ وَمَعْنَاهَا الْإِشَارِيُّ أَنَّ ذَاتَهُ تَعَالَى نُقْطَةُ الْوُجُودِ الْمُسْتَمَدُّ مِنْهَا كُلُّ مَوْجُودٍ ا هـ .

Arti makna BASMALAH termuat dalam huruf Ba nya :
Menurut Syekh Ibrahim dalam kitab Jauharotut Tauhid artinya "BIMAA SYAA-A ALLAAHU KAAN, WA BIMAA LAM YASYA' LAM YAKUN" apa yang di kehendaki Allah pasti wujud, dan yang tidak di kehendakiNya tidak akan wujud, Ada juga yang mengartikan sebagai wujud kata isyarat dari "BII KAANA MAA KAANA, WA BII YAKUUNU MAA YAKUUNU" Hanya sebab Aku (Allah) segala yang telah terjadi dan hanya sebab Aku (Allah) segala yang akan terjadi.
Sebagian Ulama ada juga yang menambahkan Makna yang terkandung dalam huruf BA teringkas pada NUQTHOH, titik yang ada pada ALQOLAM (di lauhil mahfuudz) yang menunjukkan bahwa Dzat Allah adalah pusat dari segala sesuatu yang wujud.
Wallaahu A'lam

Tuhfatul Habiib I/30-33

ومما يتعلق بالبسملة من المعاني الدقيقة ما قيل إن الباء بهاء الله والسين سناء الله والميم مجد الله وقيل الباء بكاء التائبين والسين سهو الغافلين والميم مغفرته للمذنبين

Ada yang mengartikan rahasia di balik makna basmalah
BA = BAHAA-ULLAAH = keagungan Allah
SIN = SANAA-ULLAAH = kemegahan Allah
MIM = MAJDULLAAH = Kemuliaan Allah

Ada juga yang mengartikan
BA = BUKAA-UT TAAIBIIN = Tangisan orang-orang yang bertaubat
SIN = SAHWUL GHOOFILIIN = Kealpaan orang-orang yang lalai
MIM = MAGHFIROTUHUU LIL MUDZNIBIIN = Ampunan Allah untuk mereka yang berbuat dosa

Dalam arti seberapapun besar dosa seorang hamba dan kealpaan dia asal dia bertaubat dan menyesal dengan bersimpuh dan menangis dihadapanNya, ampunan Allah selalu terbuka.

I'aanathu -Thoolibiin I/4


بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ
Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

ARTI LAFADZ “ISMI” PADA BASMALAH
Menurut Ulama Basyrah lafadz ISMI berasal dari kata SUMUWWI atau SIMUWWI yang bermakna luhur dalam arti sesuatu yang disandari kata ismi haruslah sesuatu yang luhur, tidak memiliki sisi negative dan pusat terhimpunnya penghormatan, perhitungan dan kebijakan.

Madzhab Ahli Sunnah wal Jamaah cenderung memilih pendapat ini seperti pernyataan Imam AlQurtubi “Allah Ta’aalaa senantiasa bersifatan dengan asma dan sifat baik sebelum atau sesudah terciptanya makhluq bahkan setelah kemusnahan semua makhluk sekalipun tidak akan mempengaruhi sedikitpun akan keberadaan Allah pada Asmaa dan sifat-sifatNya”,

Berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa lafadz ISMI berasal dari kata WASMI yang artinya adalah tanda, menurut mereka Allah hanyalah tanda yang di adakan setelah adanya makhluk, sebelum terciptanya makhluk Allah tidak memiliki nama dan sifat begitu juga setelah musnahnya semua makhluk, pendapat ini adalah pendapat Golongan Mu’tazilah, namun secara keseluruhan dua pendapat ini sepakat bahwa ismi hanyalah kata yang bisa berbentuk mufrad (tunggal) atau jamak dan berarti hanyalah hawadits (barang baru) berbeda dengan Dzat Allah sendiri yang Azali

Menurut Imam Syamsuddin Muhammad bin Abil ‘Abbas Ahmad bin Hamzah Ibnu Syihabuddin Ar-Ramli dalam kitab An-Nihaayah penamaan atas sesuatu (biasanya) di pengaruhi oleh 9 unsur :

1. Nama yang sesuai kenyataan melihat bentuknya secara keseluruhan (seperti orang yang di kehendaki bisa berguna di kemudian hari di beri nama Irwan, Hehe)

2. Nama yang sesuai kenyataan melihat sebagian bentuk (seperti orang yang hobi memelihara jenggot yang kemudian di beri nama MBAH JENGGOT)

3. Nama yang sesuai kenyataan melihat sifat bawaan aslinya (seperti orang yang terlahir dengan warna kulit hitam di beri nama si BLACK)

4. Nama yang sesuai kenyataan melihat sifat tambahan (seperti orang yang sulit merapatkan kedua bibirnya di beri nama NGOWOH)

5. Nama yang sesuai kenyataan melihat sifat negatifnya (seperti orang yang hobi nonton sepakbola diberi nama GIBOL)

6. Nama yang sesuai kenyataan melihat sifat asli dan sifat tambahan (BLACK NGOWOH)

7. Nama yang sesuai kenyataan melihat asli dan sifat negative (BLACK GIBOL)
8. Nama yang sesuai kenyataan melihat tambahan dan sifat negatif (GINGGO = GIBOL NGOWOH)

9. Nama yang sesuai kenyataan melihat sifat asli, sifat tambahan dan sifat negatifnya (BAGINGGO = BLACK GIBOL NGOWOH)

◆◆◆◆◆◆◆◆◆◆◆◆◆◆

PROSES SUMUWWI bisa menjadi ISMI
حذفت لامه اي الواو تخفيفا لأن الواضع علم أنه يكثر استعماله فخففه ثم سكنت سينه وأتى بهمزة الوصل توصلا وعوضا عن اللام المحذوفة

Lam fiil SUMUWWI (yaitu wau) dibuang karena kebiasaan setiap kata yang diakhirnya huruf ilat (wau dan ya') memang dibuang seperti kata YADUN yang asalnya YADAWUN kemudian sin nya disukun dan ditangkan hamzah washol untuk membantu mengucapkan permulaan kata yang mati
(pelajaran I'lal,)



Terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat BAROO-AH
(surat attaubah)

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج

Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh.....
Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36

Bila terjadi pertanyaan apakah BASMALAH dengan susunan redaksi seperti yang kita nikmati sekarang ini hanya tertentu diturunkan pada Nabi Muhammad SAW padahal konon setiap kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad juga di awali dengan BASMALAH ?

ويعرف تفصيل هذه المباحث الخمسة عشر من كلام
الشارح وغيره ، والصحيح أن البسملة بهذه الألفاظ العربية على هذا الترتيب من خصائص نبينا محمد وأمته ، وما في سورة النمل جاء على جهة الترجمة عما في الكتاب فإنه لم يكن عربياً حين كتبه وإرساله ، وإن كانت البسملة عربية باعتبار أصل نزولها ، لأنه تعالى لم ينزل كتاباً من السماء إلا باللفظ العربي لكن يعبر عنه كل نبي بلسان قومه يدل لذلك قوله تعالى :
( وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم } ) إبراهيم : 4 ) الآية

Kitab2 yang diturunkan oleh Allah yang menggunakan bahasa arab hanyalah alquran,
sedang susunan basmalah adalah susunan bahasa arab yang sempurna, andai dalam kitab sebelum alquran juga tertulis basmalah seperti apa yang diceritajan oleh alquran sendiri saat Nabi Sulaiman AS menyurati Balqis dengan di awali basmalah, maka yang di maksud adalah pengertian terjemah basmalahnya bukan susunan bahasa arabnya karena setiap Nabi diturunkan oleh allah disesuaikan dengan bahasa kaumnya,

◆◆

Adapun kenapa hamzah/ alif dalam lafadz بسم الله dihilangkan atau dibuang,
Sedangkan dalam kalimat yang lain seperti dalam lafadz با سم ربك dalam lafadz اقرا با سم ربك tidak ?

Alasannya adalah :

‎تنقص الف اسم في البسملة الكاملة بسم الله الرحمن الرحيم وأما باسم اللهم فتبقى معها الألف

Alif nya lafadz ISMUN dalam Basmalah yang sempurna sedangkan alifnya lafadz ISMUN dalam lafadz Bismikallahumma ditetapkan
(Qowa’idul Imla’ Hal 36)

Alasan dari pembuangan dalam Basmalah dan ditetapkan dalam lafadz lain ialah

‎وحدفت الألف في الخط بسم الله من بسم الله الرحمن الرحيم مع انها الف الوصل ‎لكثرة الإستعمال وهي متداعية التخفف‎‏ ‎ولا تحذف الألف في اقرأ باسم ربك من انها في لفظ الإسم كما في بسم الله ‎لقلة استعماله ‎وإن كانت في لفظ الإسم

‎مراح الأرواح ص ٥٨

Huruf Alif dalam tulisan ISMUN Dari ayat Bismillahirrohmaanirrohiin di buang disamping berupa hamzah washol (Sambung)
Juga dikarnakan banyak Penggunaan /Pemberlakuannya

Dan huruf alif ISMUN
Dalam ayat BISMI ROBBIKA dibuang dikarnakan Sedikit Penggunaan / Pemberlakuan nya meskipun ismun dalam lafadz iqro’ itu sebagaimana ismun dalam lafadz Basmalah
(Murohul Arwah Hal 58)

‎وإنما حرك الساكن بالكسر لأن الساكن إذا حرك حرك بالكسء فصار إسم ثم زيدت الباء في اوله لتدل على البقاء فصار باسم ثم حذفت الهمزة‎‏ ‎طلبا للتخفيف فعوض مد الباء منها لكثرة استعماله انتهى

‎المطلوب ص ٣‏

Alasan huruf alif dalam Lafadz ismun dari ayat Basmalah ialah Karna Mencari keringanan susunan dan mengganti membaca mad (Panjang) nya Ba’ dari pembuangan alif dikarnakan banyak penggunaan / pemberlakuannya
(Al-Mathlub hal 3)
والله اعلم