Jumat, 01 April 2016

Terjemah kitab dardir

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika Nabi Muhammad Saw. berbaring tidur (antara ingat dan tidak ingat) di kamar rumah, diantara dua sahabat yaitu Hamzah dan Abu Ja’far bin Abu Thalib tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan Mikail, kemudian diikuti Israfil membawa beliau sampai di sumurzamzam[1]. Lalu Nabi diberikan kewibawaan dan kehormatan di pundaknya dan dipenuhi dada beliau dengan ilmu pengetahuan.

Menurut satu riwayat bahwa Malaikat Jibril masuk ke rumah Nabi melalui atap rumah beliau yang terbuka, kemudian Jibril membelah lubang leher Nabi sampai badan paling bawah. Jibril memerintahkan Mikail untuk membawakan baskom besar berisi air zamzam untuk membersihkan dan mensucikan hati beliau dari segala kotoran dan sifat-sifat tercela kemudian membasuhnya tiga kali dengan air tersebut. Mikail bolak-balik tiga kali membawa baskom yang berisi air zamzam untuk membersihkannya kemudian yang keempat kalinya beliau membawa baskom yang berisi emas dipenuhi dengan hikmah[2.].dan iman, lalu dada beliau dikosongkan dan diisi dengan sifat hilm[3].kesempurnaan ilmu, keyakinan yang kuat dan  pasrah/menerima qodho dan qadardari Allah. Lalu malaikat menutup/merapatkannya kembali  dada Nabi yang terbelah dan menstempel dengan stempel kenabian diantara dua pundak beliau.

Setelah itu, Nabi dibawa dengan kendaraan burok [4]. yang mempunyai dua sayap berada di dua pahanya, yang dapat menguatkan dua kakinya. Burok merasa berat membawa Nabi, lalu Jibril berkata kepadanya, sambil meletakkan tangannya diatas pundaknya (untuk memberitahukannya):”Tidakkah engkau merasa malu hai burok?. Demi Allah! tidak ada makhluk yang paling mulia di sisi Allah selain beliau, orang yang engkau bawa itu”. Seketika juga burok tersimpuh malu sampai bercucuran keringat lalu Nabi menaikinya. Ada yang berpendapat bahwa Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. pernah mengendarai burok. Sedangkan menurut Sa’id  bin Musayyab dan yang lainnya burok adalah kendaraan yang pernah ditumpangi oleh Nabi Ibrahim ketika beliau akan berangkat dari Syam menuju Mekkah(baitul haram). Nabi berangkat dengan kendaraan burok didampingi oleh Jibril di sebelah kanan beliau , dan Mikail di sebelah kirinya. menurut Ibnu Sa’ad Jibril adalah orang yang bertugas sebagai pengendara burok, sedangkan Mikail sebagai pemegang tali burok.

Berangkatlah Nabi didampingi Jibril dan Mikail dengan mengendarai burok sehingga sampai di sebuah tempat yang terdapat pohon kurma. Jibril berkata kepada Nabi: “Turun dulu disini! Kemudian shalatlah!”. Maka beliau shalat (melaksanakan apa yang diperintahkah kepadanya). Setelah itu, beliau naik burok . lalu Jibril bertanya kepada Nabi:”Taukah kamu? dimana tadi kamu shalat?”. Beliau jawab :”Tidak”,  akhirnya Jibril menjelaskan bahwa tadi kamu shalat diTayyibah[5]. Kemudian Nabi melanjutkan kembali perjalanannya mengendarai burok yang berjalan dengan cepat, dengan langkah kaki secepat penglihatan matanya. Ditengah perjalanan Jibril menyuruh Nabi berhenti sejenak untuk shalat terlebih dahulu, lalu       Nabi melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya . Setelah selesai,  kemudian beliau bergegas naik ke atas burok kembali. Tidak lama setelah itu, Jibril bertanya lagi kepada Nabi (Sebagaimana yang sebelumnya): ”Taukah kamu? dimana tadi kamu shalat?”. Beliau menjawab:”Tidak”, lalu Jibril memberikan jawaban bahwa tadi kamu shalat diMadyan[6]. Kemudian Nabi melanjutkan kembali perjalanannya mengendarai burok sehingga sampai di suatu tempat, lalu Jibril menyuruh Nabi berhenti untuk shalat di tempat tersebut. Akhirnya beliau menuruti apa yang diperintahkan Jibril kepadanya. Setelah selesai shalat, beliau langsung naik burok untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian tidak lama setelah itu, Jibril bertanya kembali kepada Nabi ( sebagaimana pertanyaan sebelumnya):”Taukah kamu? dimana tadi kamu shalat?”. Beliau menjawab:”Tidak”, lalu Jibril memberikan jawaban bahwa tadi kamu shalat di Thursina[7].

Kemudian Nabi ditemani oleh Jibril dan Mikail dibawa oleh burok untuk melanjutkan perjalanan sampai di suatu tempat yang nampak dengan jelas istana-istana negeri Syam. lalu Jibril menyuruh Nabi berhenti untuk shalat di tempat tersebut. Akhirnya beliau menuruti apa yang diperintahkan Jibril kepadanya. Setelah selesai shalat, beliau langsung naik burok untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian tidak lama setelah itu, Jibril bertanya kembali kepada Nabi ( sebagaimana pertanyaan sebelumnya):”Taukah kamu? dimana tadi kamu shalat?”. Beliau menjawab:”Tidak”, lalu Jibril memberikan jawaban bahwa tadi kamu shalat di Baitlehm[8].

Ketika Nabi melakukan perjalanan diatas burok tiba-tiba beliau melihat Ifrit[9]. yang hendak menghampirinya dibelakang beliau dengan membawa obor di tangannya, setiap kali Nabi melirik ke arah ifrit tersebut, dia membalas memandang beliau. Jibril bertanya kepada Nabi:”Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kata yang dapat kamu ucapkan, dan apabila kamu mengucapkannya niscaya obor yang ada di tangan ifrit tersebut akan padam, dan dia akan jatuh tersungkur (binasa)?”. Beliau menjawab:”Ya mau”, katakanlah! Aku berlindung kepada dzat Allah yang mulia dan dengan kalimah-kalimah allah yang sempurna yang tidak akan melampui batas bagi orang yang shaleh, tidak juga bagi orang yang jahat apabila mengucapkannya, dari suatu kejahatan yang turun dari langit, kejahatan yang naik ke langit, kejahatan yang bertebaran di bumi, dan kejahatan yang keluar dari bumi, dan dari  berbagai fitnah malam dan siang, dari kejahatan jalan-jalan malam dan siang kecuali satu jalan yang mengantarkan kepada kebaikan. Ya Rahman! Akhirnya obor yang dibawa oleh Ifrit itu padam dan dia jatuh tersungkur (binasa).

Kemudian Nabi bersama Jibril dan Mikail melanjutkan perjanannya kembali, sampai tiba di suatu kaum yang sedang menanam tanaman. Tidak lama kemudian, mereka dapat memanennya (mengambil hasil panen), setelah diambil hasil panennya, tanaman tersebut kembali seperti semula (seperti sebelum panen). Lalu Nabi bertanya kepada Jibril: “Apa ini?” Jibril menjawab: mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sesuatu yang mereka infakkan maka Allah akan menggantinya. Lalu  beliau mencium bau harum, karena merasa penasaran akhirnya beliau menanyakan hal tersebut kepada Jibril : “Harum bau apa ini?” dia menjawab:”Itu harum baunyaMasyithoh, seorang pembantu kerajaan fir’aun yang kerjanya adalah menyisir rambut anak perempuannya fira’un”. Ketika dia sedang menyisir rambut putri fira’un tiba-tiba sisirnya jatuh, dengan spontan masyithoh mengucapkan:”Bismillahi” terdengarlah perkataan tersebut oleh putri fira’un, karena merasa ayahnya telah ditipu selama ini (diam-diam beriman kepada Allah) lalu dia berkata kepada Masyithoh:”Akan aku beritahukan kejadian ini kepada ayahku? Dengan lantang dan penuh keyakinan masyithoh menjawab:”Ya, silahkan!”, tidak lama kemudian fir’aun memanggil masyithoh untuk menghadapnya, setelah masyithoh menghadap, fira’un berkata kepadanya:”Apakah kamu mempunyai tuhan selainku?” masyithoh menjawab :”Ya, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah. Konon wanita (Masyithoh) tersebut mempunyai 2 anak dan seorang suami.

Fira’un merayu dia dan suaminya untuk meninggalkan agamanya, akan tetapi keduanya menolak ajakan tersebut. Fir’aun berkata kepadanya: “Sungguh saya akan membunuh kalian berdua”. Lalu masyithoh meminta kepada fir’aun seraya berkata: “Merupakan suatu kebaikan darimu atas kami, apabila kamu membunuh kami maka kuburkanlah  jasad kami di satu kuburan”. Lalu fira’un berkata:”Ini upahmu dari kami yang menjadi hakmu”. Kemudian dia memerintahkan kepada prajuritnya untuk membawakan katel besar dari tembaga lalu panaskan sampai benar-benar panas, setelah panas,  masyitoh dan putra-putranya dilemparkan kedalamnya (katel besar tesebut). Satu persatu mereka dilemparkan sampai giliran putranya yang paling kecil yang masih disusui oleh ibunya. Dia berkata:”hai ibuku lemparkan saja aku dan janganlah engkau ragu-ragu karena engkau dijalan yang benar!”. Akhirnya masyitoh dan putran-putranya dilemparkan ke katel besar yang sangat panas.

  Seorang perawi hadits berpendapat bahwa ada empat anak keci (masih bayi) yang ketika masih dibuaian ibunya sudah dapat berbicara, yaitu bayi siti masyitoh, saksi Nabi Yusuf, sahabat Juraij dan Nabi Isa AS.  

Kemudian Nabi menemui satu kaum yang kepala mereka pecah, setiap kali pecah kembali pada keadaan semula (menjadi utuh lagi) sampai tidak henti-hentinya keadaannya seperti diatas. Maka beliau bertanya kepada Jibril: “Siapa mereka itu?”, Jibril menjawab:”Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat digerakkan untuk melaksanakan shalat fardhu”.

 Kemudian Nabi menjumpai suatu kaum yang terdapat pada qubul dan dubul mereka riqa’[10]. Mereka pergi untuk merumput sebagaimana unta dan domba lalu mereka memakan pohon dhori’[11].  Zaqqum[12].
dan batu panas neraka jahannam. Beliau bertanya:”Siapa mereka itu hai jibril?” lalu jibril menjawab:”Mereka adalah orang yang tidak suka memberikan shadaqah dan Allah tidak aka berbuat dholim kepada mereka sedikitpun (akan dibalas sesuai dengan perbuatannya)”.

Kemudian Nabi menjumpai suatu kaum yang dihadapan mereka terdapat daging yang masak didalam kuali dan daging yang mentah busuk. Mereka memilih memakan daging yang mentah lagi busuk dan membiarkan daging yang masak lagi baik. Lalu beliau bertanya: “apa maksudnya ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah gambaran seorang laki-laki diantara ummatmu yang mempunyai isteri yang halal (karena sudah nikahi)  dan baik kemudian datang wanita pelacur (bukan isterinya). Dia tidur seranjang dengan wanita tersebut sampai pagi. Dan gambaran seorang wanita yang mempunyai suami yang baik kemudian datang laki-laki penggoda. Wanita tersebut tergoda sampai tidur dengannya hingga pagi”.   

            Kemudian Nabi menemukan kayu di tengah jalan, setiap orang yang melewatinya baju dan tubuhnya akan terbakar atau terluka. Lalu beliau berkata:”Ada apa ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Ini perumpamaan suatu kaum diantara ummatmu yang duduk (nongkrong) di jalan dan membegal/memalak setiap orang yang melewatinya”. Lalu beliau membaca ayat:

وَلَاتَقْعُدُوْا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوْعِدُوْنَ وَتَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ (الأَعْرَاف :86)

Artinya: Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah. (Al-A’raf : 86)

            Lalu Nabi melihat seorang laki-laki sedang berenang di sungai yang penuh darah orang yang dilempari batu. Lalu beliau berkata:”Apa ini hai jibril?” Jibril menjawab:”Ini adalah perumpamaan orang yang memakan harta riba”.

            Kemudian Nabi menjumpai seseorang yang mengumpulkan seikat kayu bakar, padahal dia tidak mampu membawanya tetapi ingin menambahnya lagi. Lalu beliau berkata:”Apa ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah salah seorang dari ummatmu yang dia mengemban amanat orang banyak, tidak mampu untuk memikulnya tetapi dia ingin menambah lagi bebannya”.

            Kemudian Nabi menjumpai suatu kaum yang lidah dan mulut mereka dipotong oleh gunting besi. Setiap kali lidah dan mulut mereka terputus, kembali seperti semula (utuh lagi) tidak henti-hentinya terus begitu. Lalu beliau berkata:”Siapa mereka hai jibril?”. Jibril menjawab:”Mereka adalah para penceramah fitnah/sesat diantara ummatmu yang hanya berorasi/berpidato tanpa mereka mengaplikasikannya/melaksanakan apa yang diorasikannya itu”. Dan beliau melewati suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku tembaga yang mencakar wajah-wajah  dan dada mereka sendiri. Lalu Nabi bertanya:”Siapa mereka itu hai Jibril?”. Jibril menjawab:”Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging orang lain (mengumpat) kemudian meletakkannya pada tubuh/jiwa mereka sendiri”.              

Kemudian Nabi melewati lubang kecil bulat, keluar darinya sapi jantan besar. Lalu sapi itu ingin kembali ke lubang tersebut akan tetapi tidak mampu melakukannya.  Maka beliau berkata:”Apa ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah salah seorang ummatmu yang berkata dengan perkataan yang besar pengaruhnya, kemudian dia menyesal dengan perkataan tersebut akan tetapi dia tidak mampu untuk meralat/merubah kembali apa yang sudah dia katakana”.

Ketika Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari sebelah kanan beliau. Dia berkata:”Hai Muhammad perhatikanlah aku! Aku ingin bertanya kepadamu”. Akan tetapi beliau tidak menjawabnya (menghiraukannya). Lalu beliau berkata: “Apa ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah seorang yahudi yang apabila kamu menjawab pertanyaannya niscaya umatmu akan menjadi yahudi”.   

Kemudian Ketika Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari sebelah kiri beliau. Dia berkata:”Hai Muhammad perhatikanlah aku! Aku ingin bertanya kepadamu”. Akan tetapi beliau tidak menghiraukannya. Lalu beliau berkata:”Apa ini hai jibril?”. Jibril menjawab:”Dia adalah seorang nasrani yang apabila kamu menjawab pertanyaannya niscaya umatmu akan menjadi nasrani”.  

 Kemudian sewaktu Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada seorang wanita yang tersingkap kedua hastanya dengan segala perhiasan yang diciptakan Allah. Wanita itu berkata: ”Hai Muhammad perhatikanlah aku! Aku ingin bertanya kepadamu. Tetapi beliau tidak meliriknya. Lalu berkata:”Siapa dia hai Jibril?”. Jibril menjawab:”Itu adalah dunia. Apabila kamu menjawab pertanyaannya niscaya ummatmu lebih memilih dunia dari pada akhirat”.

Kemudian sewaktu Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada seorang kakek yang menyingkir dari jalan memanggilnya seraya berkata:”Hai Muhammad kemari kamu! Lalu jibril berkata:”Teruslah berjalan jangan hiraukan hai Muhammad!”. Beliau berkata:”Siapa dia hai Jibril? Jibril menjawab:”Dia adalah iblis musuh Allah, dia ingin memalingkannmu dari jalan lurus”.

Kemudian Nabi berjalan melewati seorang nenek  yang berada di sisi jalan. Lalu dia berkata:”Hai Muhammad perhatikanlah aku! Aku ingin bertanya kepadamu”. akan tetapi beliau tidak meliriknya. Dan Nabi berkata:”Siapa dia hai jibril?”. Jibril menjawab:”Bahwasanya umur dunia itu tidak lain kecuali sisa umur nenek ini”.

 Kemudian Nabi berjalan sampai beliau tiba di kota Baitul maqdis[13 ] dan memasukinya lewat pintu sebelah kanan. Lalu beliau turun dari burok, dan mengikatnya di pintu mesjid dikelilingi/dikerumuni oleh banyak oleh sebagaimana yang dilakukan para nabi AS. Dan dalam satu riwayat diceritakan bahwa jibril datang dengan membawa batu besar, lalu beliau meletakkan jari-jari tangannya pada batu tersebut. Kemudian melubangi/merobek dan menahan burok dengan batu itu. Setelah itu, beliau masuk mesjid melalui pintu yang di masuki sinar matahari dan bulan. Lalu beliau shalat sunnah tahiyyatul masjid bersama jibril masing-masing 2 raka’at. Tidak lama Nabi diam di mesjid, kemudian banyak orang berkumpul disekitarnya lalu beliau mengetahui para nabi berada diantara orang-orang yang shalat. Kemudian adzan dikumandangkan oleh muadzin, laluiqamat. Para jama’ah yang berada di mesjid berdiri membentuk beberapa shaf sambil menunggu siapa yang akan menjadi imam. Kemudian jibril menarik tangan Nabi ke depan untuk menjadi imam. Maka beliau shalat bersama makmum dibelakangnya sebanyak 2 raka’at.

Diriwayatkan dari Ka’ab bahwa jibril yang mengumandangkan adzan di langit sehingga para malaikat turun ke bumi. Dan Allah mengumpulkan para nabi dan rasul, kemudian Nabi shalat bersama mereka. Setelah selesai shalat, jibril bertanya kepada Nabi:”Tahukah kamu siapa tadi yang shalat dibelakangmu?”. Beliau menjawab:”Tidak tahu”. Lalu jibril pun menjelaskan:”Makmum yang dibelakangmu itu adalah semua nabi yang diutus oleh Allah”. Kemudian para nabi memuji-Nya dengan pujian yang indah. Nabi berkata:”Kalian semua memuji Allah aku pun memuji-Nya”.

Kemudian Nabi mulai mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah mengutus aku untuk menjadi rahmat bagi semesta alam dan bagi seluruh manusia, sebagai pemberi berita gembira dan pemberi peringatan serta menurunkan Al-Qur’an kepadaku sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, menjadikan ummatku sebagai ummat terbaik yang diutus untuk manusia dan menjadikannya sebagai ummat pertengahan/suri tauladan, menjadikan ummatku sebagai ummat terdahulu dan ummat yang akan datang. Dia yang telah melapangkan dadaku dan menghapus dosaku, mengangkat derajatku, menjadikanku sebagai pembuka dan penutup para nabi. Lalu Nabi Ibrahim berkata:”Dengan sebab keutamaan ini maka nabi Muhammad paling utama diantara kalian (para nabi)”.

Kemudian Nabi merasa haus sekali, datanglah jibril menghampirinya dengan membawa dua wadah, yang satu berisikhamar dan yang satu lagi berisi susu. Lalu beliau memilih wadah yang berisi susu. Jibril berkata: kamu telah memilihfitrah/kesucian, jika kamu minum khamar niscaya umatmu akan sesat/menyimpang dan sedikit diantara mereka yang akan mengikuti ajaranmu. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa terdiri dari 3 wadah dan yang ketiganya berisi air tawar. Dan bahwasanya jibril berkata kepada Nabi:”Jika engkau meminum air tawar maka niscaya ummatmu akan tenggelam”. Dalam riwayat yang lain juga dikatakan bahwa salah satu dari 3 wadah yang diserahkan kepada Nabi yaitu madu sebagai pengganti air tawar.

Bahwasanya Nabi melihat bidadari-bidadari syurga berada di sebelah kiri batu besar, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka, dengan segera mereka pun membalas dengan ucapan salam pula. Kemudian Nabi bertanya kepada mereka dan mereka pun menjawabnya dengan jawaban yang menyenangkan hati dan pandangan.

Setelah Nabi melaksanakan isra dari masjidil haram sampai ke baitul maqdis, kemudian beliau mi’raj ke langit sebagaimana arwah orang-orang mukmin berpisah dari raganya ketika meninggal, kemudian diangkat ke atas langit sampai ke syurga. Tangga-tangga yang dilalui oleh Nabi ketika naik ke langit ada 10 tangga yang dinaiki yaitu 7 tangga untuk melalui 7 lapis langit, tangga ke delapan untuk sampai ke sidratul muntaha, tangga ke sembilan untuk sampai ke tempat yang hanya terdengar suara goresan pena dan tangga kesepuluh yaitu tangga ke ‘arasy dan rafraf. Tangga-tangga tersebut ada yang terbuat dari perak ada juga yang dari emas yang keindahannya belum pernah dilihat oleh manusia di dunia. Konon tangga-tangga tersebut berasal dari syurga firdaus yang bertahtakan mutiara, disebelah kanan dan kirinya dijaga oleh para malaikat.

Kemudian Nabi dan jibril naik ke langit sampai keduanya tiba di pintu langit, yang dinamakan pintu hafadzhah. Sebagai penjaga pintu tersebut yaitu seorang malaikat yang bernama Ismail, dia adalah penjaga langit dunia yang bertempat tinggal di angkasa dan tidak pernah naik ke langit dan tidak juga turun ke bumi kecuali ketika Nabi Muhammad Saw meninggal. Dia mempunyai anak buah sebanyak 70 ribu malaikat dan masing-masing dari mereka mempunyai 70 ribu pasukan. Lalu jibril membuka pintu langit, dikatakan kepadanya[14 ]:”Siapa ini?”. Beliau menjawab:”Saya Jibril”. dan beliau ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Penjaga pintu langit itu mengucapkan: ”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia! Engkau sebaik-baiknya pemimpin! Dan engkau sebaik-baiknya orang yang datang kepadaku hai Muhammad! Aku akan membukankannya untukmu berdua”. Ketika Nabi dan jibril memasukinya tiba-tiba disana ada nabi Ada AS. Sebagai bapak manusia dengan wajah seperti pertama kalinya diciptakan oleh Allah dan diperlihatkan kepada beliau arwah orang-orang mukmin beserta keluarga mereka. Ruh dan jiwa yang baik itu berkata:”Jadikanlah mereka (arwah orang-orang mukmin) tersebut berada di“illiyyun[15 ]”. Lalu Nabi juga diperlihatkan arwah orang-orang kafir. Maka berkatalah ruh dan jiwa yang kotor:”Jadikanlah mereka (arwah orang-orang kafir) itu berada di sijjin[16 ]”.

Kemudian Nabi melihat sekelompok ruh berada di sebelah kanan beliau dan mencium semerbak harum keluar dari sebuah pintu, sedangkan dari sebelah kiri beliau melihat sekelompok ruh dan mencium bau busuk yang menyengat keluar dari pintu. Apabila Nabi melihat ke arah sebelah kanan niscaya beliau akan tertawa bahagia. Sebaliknya jika beliau melhatnya ke arah kiri maka beliau akan menangis sedih. Lalu beliau mengucapkan salam kepadanya (Nabi Adam) dan beliau pun membalasnya dengan salam. Lalu Nabi Adam mengucapkan kepada Nabi:”Selamat datang anak dan nabi yang shaleh!”. Lalu Nabi berkata:”Siapa ini hai Jibril?”. Jibril menjawab:”Ini bapakmu Adam AS”. dan sekolompok arwah itu adalah keturunannya yang berada sebelah kanan itu penghuni syurga dan sebelah kiri itu penghuni neraka. Apabila kamu melihat dari sebelah kanan maka kamu akan tertawa bahagia dan apabila melihatnya dari sebelah kiri niscaya kamu akan menangis sedih dan pintu yang sebelah kanan itu adalah pintu syurga maka jika melihat penghuninya hatimu akan gembira bahagia. Dan pintu yang sebelah kiri itu adalah pintu neraka yang jika kamu melihat penghuninya maka kamu akan merasa sedih dan menangis.

Kemudian Nabi sejenak melewati orang-orang yang memakan harta riba, orang yang memakan harta anak yatim, para penjina dan orang-orang yang berbuat maksiat lainnya dalam keadaan yang sangat mengerikan sebagaimana keadaan orang-orang sebelumnya.

Kemudian Nabi naik ke langit kedua, dan Jibril membuka pintu langit. Maka dikatakan kepadanya:”Siapa ini?”. Jibril menjawab:”Saya Jibril”. lalu dia ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Dikatakan (kepada Nabi) :”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia dan pemimpin hai Muhammad! Aku akan membukakannya untukmu berdua”. Ketika keduanya masuk tiba-tiba didalam sudah ada Nabi Isa putra siti Maryam dan Nabi Yahya putra Nabi Zakariya yang merupakan anak uwa[17] Pakaian dan rambut keduanya (nabi Isa dan nabi Yahya) serupa dan mereka disertai oleh salah seorang dari kaumnya. Nabi Isa itu konon tinggi badannya sedang, berkulit putih kemerah-merahan dan berambut lebat seakan-akan orang yang baru keluar dari kamar mandi mirip dengan Urwah bin Mas’ud As-Tsaqofi.

Kemudian Nabi mengucapkan salam kepada Nabi Isa dan Nabi Yahya dan salam beliau pun dibalas oleh keduanya. Lalu keduanya megucapkan:”Selamat datang saudara dan nabi yang shaleh!, semoga engkau selalu dalam keadaan baik.

Kemudian Nabi naik ke langit ketiga, dan Jibril membuka pintu langit. Maka dikatakan kepadanya:”Siapa ini?”. Jibril menjawab:”Saya Jibril”. lalu dia ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Dikatakan (kepada Nabi) : ”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia! Engkau sebaik-baiknya pemimpin! Dan engkau sebaik-baiknya orang yang datang kepadaku hai Muhammad! Aku akan membukakannya untukmu berdua”. Ketika keduanya masuk tiba-tiba didalam sudah ada Nabi Yusuf yang ditemani oleh salah seorang dari kaumnya.

Kemudian Nabi mengucapkan salam kepada Nabi Nabi Yusuf  dan  beliau pun membalasnya dengan salam. Lalu keduanya megucapkan:”Selamat datang saudara dan nabi yang shaleh!, semoga engkau selalu dalam keadaan baik!”. Konon Nabi Yusuf itu telah diberikan setengah ketampanan wajah dari  ketampanan wajah Nabi. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi yusuf merupakan makhluk Allah yang diciptakannya dengan wajah yang sangat tampan, ketampanannya bagaikan rembulan yang nampak pada bulan purnama terhadap seluruh bintang (yang ada di angkasa).  Nabi berkata: “Siapa ini hai Jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah saudaramu Yusuf.

Kemudian Nabi naik ke langit keempat, dan Jibril membuka pintu langit. Maka dikatakan kepadanya:”Siapa ini?”. Jibril menjawab:”Saya Jibril”. lalu dia ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Dikatakan (kepada Nabi) :”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia! Engkau sebaik-baiknya pemimpin! Dan engkau sebaik-baiknya orang yang datang kepadaku hai Muhammad! Aku akan membukakannya untukmu berdua”. Ketika keduanya masuk tiba-tiba didalam sudah ada Nabi Idris yang telah Allah tinggikan derajatnya[18 ]

Kemudian Nabi mengucapkan salam kepada Nabi nabi Idris  dan  beliau pun membalasnya dengan salam. Lalu keduanya megucapkan:”Selamat datang saudara dan nabi yang shaleh!, semoga engkau selalu dalam keadaan baik!”.

Kemudian Nabi naik ke langit kelima, dan Jibril membuka pintu langit. Maka dikatakan kepadanya:”Siapa ini?”. Jibril menjawab:”Saya Jibril”. lalu dia ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Dikatakan (kepada Nabi) :”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia! Engkau sebaik-baiknya pemimpin! Dan engkau sebaik-baiknya orang yang datang kepadaku hai Muhammad! Aku akan membukakannya untukmu berdua”. Ketika keduanya masuk tiba-tiba didalam sudah ada nabi Harun yang sebagian jenggotnya berwarna putih dan sebagiannya lagi berwarna hitam panjang hampir sampai pusar beliau. Di sekitar beliau dikelilingi kaum Bani Israil sambil beliau bercerita kepada mereka, kemudian  Nabi mengucapkan salam kepada beliau dan beliau pun membalasnya dengan ucapan salam pula. Lalu keduanya megucapkan:”Selamat datang saudara dan nabi yang shaleh!, semoga engkau selalu dalam keadaan baik!”. Nabi berkata: “Siapa ini hai Jibril?”. Jibril menjawab:”Ini adalah nabi Harun bin Imran seorang laki-laki yang mencintai kaumnya.

Kemudian Nabi naik ke langit keenam, dan Jibril membuka pintu langit. Maka dikatakan kepadanya:”Siapa ini?”. Jibril menjawab:”Saya Jibril”. lalu dia ditanya lagi:”Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab:”Muhammad”. Dikatakan lagi:”Apakah dia diutus untuk mi’raj?”. Jibril menjawab:”Ya”. Dikatakan (kepada Nabi) :”Selamat datang, semoga Allah memanjangkan umurmu ! engkau sebaik-baiknya manusia! Engkau sebaik-baiknya pemimpin! Dan engkau sebaik-baiknya orang yang datang kepadaku hai Muhammad! Aku akan membukakannya untukmu berdua”.
__________________________________________

[1] Bekas pukulan sayap malaikat jibril ketika ibu Nabi Ismail, Siti Hajar kehausan bersama putranya Ismail yang masih dibuaian, ditinggal berdua oleh Nabi Ibrahim di padang sahara. Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shofa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali mencari seseorang yang membawa air untuk beliau minta dan diminumnya, kemudian datanglah Malaikat Jibril memukul tanah dengan sayapnya lalu terpancarlah air dari tanah tersebut, Siti Hajar berkata:”Zam, zam (air banyak) yang penuh berkah, maka air tersebut dinamakan air Zamzam”.

[2] Para Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan hikmah. Imam Nawawi berpendapat bahwa yang dimaksud hikmah disini yaitu ilmu yang mencakup pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan batin untuk mengetahui kebenaran dari-Nya  lalu  beliau amalkan, dan menjauhi yang bertentangan dengan kebenaran tersebut.         .

[3] Hilm (santun) antonim dari katagodhob (marah) tetapi terkadang semakna, dalam artian marah ketika melanggar segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah. 

[4] Sejenis binatang ternak yang berwarna putih, berbadan tinggi besar diatas keledai dibawah bighol (peranakan antara kuda dan keledai) langkah tapak kakinya secepat penglihatan matanya dan dua telinganya bergerak-gerak, jika dia hendak naik gunung kedua kakinya naik keatas (kakinya memanjang) sedangkan jika turun gunung kedua tangannya yang memanjang kebawah.

[5] Yaitu Madinah Al-Munawwarahdisebut Tayyibah karena tempatnya yang dianggap baik dan suci, yang menjadi tujuan hijrah kaum muslimin mekkah, dan disini pula tempat turunnya wahyu.

[6] Nama satu perkampungan yang terlatak di depan kota Gujjah dekat pohon yang dijadikan tempat berteduh dan berlindung oleh Nabi Musa ketika keluar dari mesir takut dari kejaran Fira’un.

[7] Thursina atau Thursinin sebagaimana terdapat dalam surat At-Tin, yaitu nama suatu gunung yang terkenal di syam, tapi ada juga yang mengatakan bahwa Thur itu adalah nama gunung sedangkan sina itu nama lembah. DiThursina ini nabi musa menerima wahyu dari Allah, dan beliau dapat kesempatan untuk dapat berkomunikasi langsung dengan-Nya.  

[8] Yaitu nama perkampungan yang terletak di depan Baitul Muqoddas, disebut Baitlehm karena disana nabi musa lahir dari perut Ibunya tanpa mengandung terlebih dahulu.

[9] Yaitu jin yang sangat kuat dan jorok.

[10] Tambal yang menutup seukuran qubul atau dubul.

[11] Sejenis pohon berduri yang tidak dapat dimakan oleh binatang karena jijik/busuk. Pendapat lain mengatakan pohon kering berduri. Ada juga yang berpendapat tanaman yang berbau busuk.

[11] Tanaman yang sangat pahit, terdapat di Negeri Tihamah/Mekkah. Ajhuri berpendapat buah dari pohon yang tidak enak rasanya. Pendapat lain mengatakan pohon yang tidak ada di dunia tetapi adanya di neraka yang tidak ingin dimakan oleh penghuninya.

[12] Tempat ini menjadi tempat kelima yang disinggahi Nabi. Lalu beliau melaksanakan shalat disana, sebagaimana di tempat-tempat sebelumnya.  Kelima tempat yang disinggahi Nabi untuk melaksanakan shalat di tempat tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Jibril menjadi isyarah bahwa dalam peristiwa Isra Mi’raj ini akan diwajibkannya shalat wajib lima waktu bagi kaum muslimin.

[14] Malaikat penjaga pintu langit bertanya kepada jibril.

[15] Nama tempat tertinggi di syurga atau nama syurga tertinggi. Menrurut pendapat lain yaitu nama kitab yang mencatat segala perbuatan orang yang berbuat baik. Dan ada juga yang berpendapat tempat yang berada di langit ketujuh.

[16] Nama neraka  paling bawah atau tempat terbawah di                                                         neraka. Ada juga yang berpendapat nama kitab yang mencatat segala perbuatan orang-orang yang durhaka. Pendapat lain yaitu tempat yang berada dibawah bumi ketujuh.

[17] Ibu Nabi Isa Siti Maryam itu saudara perempuannya Ibu Nabi Yahya. Jadi, antara Isa dan Yahya itu saudara sepupu (anak uwa atau anak bibi).sedangkan menurut pendapat lain bahwa Ibu siti Maryam adalah Hannah itu saudara perempuannya Ibu Nabi Yahya yang bernama Isya’ binti Paqud ada juga yang berpendapat Isya binti ‘imran. Jadi, Maryam itu Anak Uwa Nabi Yahya. 

[18] Menurut sebagian ulama bahwa Nabi Idris diangkat ke langit keempat dalam keadaan hidup oleh malaikat yang bertugas menjaga matahari. Pendapat lain menyatakan bahwa beliau adalah orang yang sangat menbenarkan (tanda-tanda kekuasaan) Allah, beliau pernah berdo’a kepada-Nya supaya diringankan bebannya yang berat (dalam menghadapi kaumnya). Kemudian Allah mengabulkan do’anya. Ada juga yang berpendapat bahwa diangkat ke langitnya itu oleh malaikat dengan idzin Allah dan beliau berdo’a supaya dimasukkan ke syurga-Nya. Lihat tafsir surat Maryam ayat 56-57. 

Kamis, 31 Maret 2016

tentang pengarang kitab al qirthos



al-Habib Ali bin Hasan al-Aththas shohib Masyhad
Beliau adalah Al-Habib Abu Hasan Ali bin Hasan bin Abdullah bin Husein bin Umar bin Abdurrahman bin Aqil Al-Aththas bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman As-Seqqaf bin Muhammad Mauladawileh bin Ali Maula Darak bin Alwy al-Ghuyyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Qasam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Ar-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Ali Abi Thalib ibin Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.
Beliau dilahirkan di Huraidhah, Hadhramaut. Pada malam Jumat, Rabiul Tsani tahun 1121 H. Beliau wafat di Masyhad, Gheywar pada tahun 1172 H. pada usia 51 tahun. Beliau mengambil thariqah, tasawuf dari kakeknya yaitu dari al-Habib Husein bin Umar bin Abdurrahman al-Aththas.
Al-Habib Ali bin Hasan al-Aththas beliau berkata, “Saya membaca pada al-Habib Husein bin Umar al-Aththas, kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali. Al-Adzkar karya al-Imam Muhyiddin Nawawi. Al-Fushulul Muhimmah fi fadhailil A-immah karya Ibnush Shobbagh al-Maliki.” Selain itu beliau pun mempelajari kitab Syarh al-Hikam karya asy-Syekh Muhammad bin Ibrahim bin ‘Ubbad an-Nafi ar-Randi, kitab Syarah Qasidah al-Hamaziyah-nya Imam al-Bushiri karya Syekh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami dan masih banyak lagi. Kakeknya Al-Habib Husein inilah guru paling utama dari Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas.
Selain itu beliau juga belajar pada ulama-ulama lain pada zaman itu (Abad XII H) sehingga beliau menjadi ulama yang disegani dan unggul dalam ilmu dzahir dan bathin.
Di antara karya-karya beliau adalah sebagai berikut :
1.    Al-Qirthas fi Manaqibil Aththas, kitab ini yang paling termashyur di antara karya beliau yang lain.
2.    Silwatul Mahzun Wa Izwatal Mamhun.
3.    Mizajut Tasnim fi Hikami Luqmanil Hakim.
4.    Khulashatul Maghnam Wa Bughyatul Muhtam Bismillahil A’zham.
5.    ‘Athiyyatul Hanniyah Wal Washiyyatul Mardhiyyah.
6.    Al-Maqshad Ila Syawahidil Masyhad.
7.    Ar-Riyadhul Muniqah Fil Al-Fazhil Mutafarriqah.
8.    Muqaddimatu Najwa Dzawil Maqamatis-Sirriyyah Wa Muqaddimatu Jaysil Maqamatil Haririyyah.
9.    Safinatul Badhayi’ Wa Dhaminatudh Dhawayi’.
10. Sebuah Diwan (kumpulan syair) yang berjudul Qalaidul Hisan Wa Faraidul Lisan.
11. Ar-Rasail Al-Mursalah Wal Wasail Al-Mushalah.
Al-Habib Ali bin Husain Al-Aththas penyusun kitab Tajul A’ras Fi Manaqib Al-Habib Al-Quthb Shaleh bin Abdullah Al-Aththas berkata : Al-Habib Ali bin Hasan juga memiliki karya-karya yang lain yaitu :
1.    Kitab Asy-Syawahid Wasy Syawarid, tentang kata-kata hikmah dari Yunani.
2.    Kitab tentang lafazh Wasiat yang selayaknya dipersiapkan oleh seorang muslim sebelum kematiannya.
3.    Kitab Al-Hadrah Ar-Rabbaniyyah Wan Nazrah Ar-Rahmaniyyah dan lain-lain.


Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas di dalam Kitab Al-Qirthas menerangkan tentang keutamaan menyusun dan menyebarluaskan sejarah hidup dan manaqib orang-orang sholeh. Beliau berkata,” Di antara keutamaan membukukan, menulis dan menyebarluaskan sejarah hidup orang-orang sholeh adalah demi untuk mencintai orang-orang sholeh sebagaimana yang disebutkan Baginda Nabi SAW dalam sabdanya :” Sesungguhnya seseorang telah ridho dan senang mengikuti petunjuk dan amalan seseorang yang sholeh, maka ia akan semisal dengannya dan seseorang yang mencintai sekelompok orang, maka akan dikumpulkan bersama mereka, sebab seseorang akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya”. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Baginda Nabi SAW :” Bilakah tibanya hari kiamat?”
Tanya beliau SAW,” Apa yang engkau siapkan untuk menghadapinya?”
Jawab lelaki itu,” Aku tidak menyiapkan apapun, selain hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya”.
Maka sabda Baginda Nabi SAW,” Maka engkau akan dikumpulkan dengan orang yang engkau cintai.”
Selanjutnya kata sahabat Anas ra.,”Sesungguhnya aku mencintai Nabi SAW dan aku pun mencintai Abu Bakar dan Umar, semoga aku dikumpulkan bersama dengan mereka, meskipun aku tidak bisa melakukan amal-amal kebajikan sebanyak yang mereka lakukan.””

Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas berkata,” Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, para sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan aku pun mencintai Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas. Karena itu aku berharap, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku berkat mereka semua.”

Di antara faedah dari mencintai orang-orang sholeh adalah, seperti yang diungkapkan Sayyidi Syekh Abdu Sholeh Hamdun bin Amara Al-Khisar An-Naisaburi :”Barangsiapa yang mempelajari sejarah hidup orang-orang sholeh terdahulu maka ia akan mengetahui segala kekurangannya dan ketinggalannya dari orang-orang yang telah berhasil meraih kedudukan tertinggi”. Ucapan ini dinukil juga oleh Imam Khusairi.rhm di dalam risalahnya.

Ketika Syekh Zakaria bin Muhammad, mengomentari ucapan tadi  Sayyidi Syekh Abdu Sholeh Hamdun  maka ia menyebutkan di dalam kitab syarah-risalah : “Sebab sahabat-sahabat Nabi SAW telah mengorbankan harta mereka dan diri mereka di jalan Allah, mereka menjual diri mereka kepada Allah dan mereka memenuhi janji mereka kepada Allah. Demikian pula kaum tabi’in (pengikut), mereka telah pula menghabiskan kesempatan diri mereka untuk menuntut ilmu dan melakukan amal-amal kebajikan, serta berpaling dari kesenangan duniawi. Seseorang yang memperhatikan sejarah hidup orang-orang sholeh, kemudian ia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang terkemuka itu maka ia tidak akan mendapati. Maka mereka akan menjadi rindu kepada Tuhan mereka”.

Menurut Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas maksud dari kata mencium dari bau harumnya seorang wali adalah, mendengarkan sejarah hidup para wali itu, baik dari segi akhlaknya, ketekunan ibadahnya dan kekerasan serta karamah-karamah yang mereka peroleh, maka tidak diragukan lagi berita-berita itu akan mengena di hati orang dan akan menjadikannya ia rindu kepada Tuhan Yang Mengetahui Segala yang Ghaib, dan berita-berita itu akan mendorongnya makin bergairah untuk meningkatkan prestasi pengabdiannya kepada Allah SWT, sebagaimana sebuah besi magnetis akan menarik besi lainnya.

Syakhik Al-Balqhi.rhm berkata,”Seorang yang tidak mengasihani seseorang yang telah berbuat kesalahan maka sesungguhnya ia lebih jahat daripada orang yang berbuat kesalahan itu, seseorang yang tidak terpesona oleh manisnya kisah seorang wali maka itu adalah orang yang buruk.”

Imam Muhyiddin an-Nawawi.rhm menyebutkan di dalam mukadimah kitab majemuk al-Kabiir,” Hendaknya seorang murid mengenal nama-nama para sahabat dan para ulama lengkap dengan julukan mereka, sejarah hidup mereka, nasab mereka dan sifat-sifat mereka”. Selain itu di bagian akhir mukadimah kitab Thadzibul Asmaa-i Wal Lughat, beliau menyebutkan,” Ketahuilah, bahwa untuk mengenali nama-nama orang sholeh beserta keadaan mereka beserta tingkatan mereka mempunyai faedah yang banyak diantaranya adalah mengetahui dengan baik sejarah hidup mereka, sehingga suri tauladan mereka dapat diikuti dan dapat menghormati mereka menurut kedudukan yang semestinya”. Sehubungan dengan ini Sayidah Aisyah.rha pernah berkata,” Kami diperintahkan Rasulullah SAW untuk menghormati manusia menurut kedudukannya masing-masing.”

Selanjutnya  Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas menuturkan,”Ketika guru kami Al-Habib Husein bin Umar bin Abdurrahman Al-Aththas menyuruhku membaca sebuah kitab tentang sejarah perjalanan sesepuh kami ahli bait, yaitu ketika aku mulai belajar ilmu agama dari beliau, maka sebagian orang berkata kepada beliau,” Mengapa engkau menyuruh anak ini membaca sejarah hidup ahli bait?”, maka Al-Habib Husein berkata,” Kami ingin agar ia mengenal sejarah hidup kaum salafnya yang sholeh, agar ia dapat mengikuti suri tauladan mereka yang baik.”

Selanjutnya Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas menuturkan,“Al-Qur’an Al-Aziz banyak mengutarakan sejarah hidup orang-orang terkemuka dan berita orang-orang baik maupun orang-orang jahat, baik secara terperinci maupun secara ringkas, semua itu disebutkan agar diambil pelajaran dari kisah-kisah itu. Demikian pula kaum ulama banyak yang menulis sejarah hidup orang –orang sholeh yang terkemuka, di antaranya Imam Bukhari sendiri pernah menyusun bab sejarah hidup orang-orang sholeh yang terkenal. Apa yang saya tuangkan di atas tentang sekelumit keutamaan mencatat dan mengenali sejarah hidup orang-orany yang sholeh merupakan pengetahuan yang cukup tinggi nilainya bagi orang-orang yang mencintai mereka dan yang mengikuti suri tauladan baik mereka.”

Sanad Al-Habib Ali bin Hasan Al-Aththas yang beliau terima dari gurunya yang mulia Al-Quthb Kabir Al-Imam al-Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim.rhm

Beliau belajar dari gurunya :

    Al-Habib Husein bin Umar bin Abdurrahman Al-Aththas dari ayahnya,
    Al-Quthb Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas dari gurunya,
    Al-Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim dari saudaranya,
    Al-Habib Umar Al-Mukhdor bin Syekh Abu Bakar bin Salim dari ayahnya,
    Quthb Fakrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim dari gurunya,
    Al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman dari ayahnya,
    Al-Habib Abdurrahman bin Ali dari ayahnya,
    Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakran dari ayahnya dan pamannya,
    Al-Habib Abu Bakar Sakran dan Al-Habib Umar Al-Mukhdor, beliau berdua menerima dari ayahnya Al-Habib Quthb Kabiir Abdurrahman As-Seqqaf dari ayahnya,
    Al-Habib Muhammad Mauladawileh dari ayahnya,
    Al Imam Ali Maula Darrak dari ayahnya,
    Al-Imam Alwy Al-Ghuyyur dari ayahnya,
    Al-Imam Sayyidi Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy dari ayahnya dan pamannya
    Al-Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath dan Al-Imam Alwy ‘Ammal Faqih beliau berdua dari ayahnya,
    Al-Imam Muhammad Shahib Marbath dari ayahnya,
    Al-Imam Ali Khali Qasam dari ayahnya,
    Al-Imam Alwy Shahib Shamal dari ayahnya,
    Al-Imam Muhammad dari ayahnya,
    Al-Imam Alwy Ba’Alawy dari ayahnya,
    Al-Imam Ubaidullah dari ayahnya,
    Al-Imam Ahmad Al-Muhajir dari ayahnya,
    Al-Imam Isa Ar-Rumi dari ayahnya,
    Al-Imam Muhammad An-Naqib dari ayahnya,
    Al-Imam Ali Al-Uraidhi dari ayahnya,
    Al-Imam Ja’far Shadiq, dari ayahnya,
    Al-Imam  Muhammad Al-Baqir ayahnya,
    Al-Imam Ali Zainal Abidin dari ayahnya dan pamannya,
    Al-Imam Husein dan Al-Imam Hasan dari ayahnya,
    Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari
    Baginda Nabi Rasulullah SAW dari Malaikat Jibril as. dari Allah SWT


Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy beliau juga menerima sanad dari jalur lain selain dari ayah dan pamannya yakni dari gurunya :

    Sayyidi Syekh Syu’aib Abu Madyan Al-Maghribi, dengan perantaraan Syekh Abdurrahman Al-Muq’ad dan Syekh Abdullah As-Sholeh. Sayyidi Syekh Syu’aib Abu Madyan Al-Maghribi juga memperoleh sanad dari Kanjeng Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
    Sayyidi Syekh Abu Ya’izza Al-Maghribi
    Sayyidi Syekh Abul Hasan bin Hirzihim (Abu Harazim)
    Sayyidi Syekh Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah Ibn ‘Arabi
    Sayyidi Syekh Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali
    Sayyidi Syekh Al-Imam Haramain Abdul Malik
    Imam Muhammad Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini
    Sayyidi Syekh Abu Thalib Al-Makki
    Sayyidi Syekh Abu Bakar Asy-Syibli
    Sayyidi Syekh Al-Imam Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi
    Sayyidi Syekh As-Sirri As-Siqthi
    Sayyidi Syekh Ma’ruf Al-Kharki
    Sayyidi Syekh Daud At-Tha’i
    Sayyidi Syekh Habib Al-Ajami
    Sayyidi Syekh Al-Imam Hasan Al-Bashri
    Amirul Mukminin Sayyidina Al-Imam Ali bin Abi Thalib
    Sayidina Rasulullah SAW


   Ia menulis dalam Al-Qirthos nishful awwal:
    "Lalu diam-diam aku mulai menulis dan tidak ada selain Allah yang kuberitahu.  Aku merahasiakannya untuk  waktu yang cukup lama.   Suatu hari aku pergi ke kota Qoidun untuk berziarah ke makam As-Syeikh Al-Kabir Said bin Isa Al-Amudi.  Di sana aku bertemu dengan Sayyidiy As-Syeikh Al-‘Arif Asy-Syarif Abubakar bin Muhammad bin Abubakar bin Muhammad Ba Faqih Alawiy.  Habib Abdullah Al-Haddad pernah berkata bahwa beliau menduduki maqom Junaid.  Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Ali, alhamdulillah aku telah bergaul dengan banyak wali Allah.  Di antara mereka adalah kakekmu Umar, murid beliau Syeikh Ali Baros, Syeikh Muhammad bin Ahmad Ba Masymus, Habib Abdullah Al-Haddad, Habib Husein bin Umar Alatas, Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan..."
    Habib Abubakar menyebutkan nama para wali yang pernah ditemuinya, kemudian Habib Ali bin Hasan melanjutkan ceritanya:
    Setelah itu beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Ali, tulislah, tulislah.’  Aku pun segera sadar bahwa Allah telah memberitahukan niatku kepadanya. (Hal 2)
    Mulailah Habib Ali bin Hasan melakukan perjalanan untuk menemui orang yang pernah bertemu kakeknya, atau menemui orang yang pernah bertemu dengan orang yang pernah bertemu kakeknya.

Sehubungan dengan rencananya untuk menyusun manaqib kakeknya, Habib Ali bin Hasan bercerita:
Ketika aku masih menulis pengantar buku ini, tiba-tiba seorang syarif majdzub yang bernama Abdurrahman Al-Gushn Ba Alawi  berjalan menghampiriku sambil membaca Quran.  Aku segera berdiri menyambutnya.  Setelah berada dekat denganku, ia menoleh kepadaku lalu mengeraskan bacaannya: Faqshushil Qoshosho la-'allahum yatafakkaruun (Oleh karena itu, ceritakanlah [kepada mereka] kisah itu agar mereka berfikir) Al-A'rof, 176  Aku senang dengan ucapannya ini dan kagum kepadanya.  Lalu kuletakkan ayat  ini dalam kata pengantar bukuku.  (hal 7)
    Semangat Habib Ali bin Hasan tambah menggebu-gebu.  Sebab, sudah ada dua orang arif yang mendukung usahanya.  Dan yang lebih menggembirakan, kedua orang itu tahu rencana penyusunan manaqib bukan darinya.  Tapi Alloh-lah yang menyingkapkan kepada mereka niat baik ini.  Dengan kata lain, bahwa Alloh pun meridhoi niatnya.

    Di samping semua itu masih ada lagi alasan lain yang lebih memantapkan hati habib ini.  Beliau berkata:
    Di antara hal yang mendorongku untuk menulis buku ini adalah apa yang disebutkan oleh pengarang kitab A’maalut Taariikh: Barang siapa menulis tarikh seorang wali Allah Ta’ala maka kelak di hari kiamat ia akan bersamanya.  Dan barang siapa melihat nama seorang wali Allah dalam kitab tarikh karena mencintainya, maka ia seakan-akan telah menziarahinya.  Dan barang siapa menziarahi wali Allah, maka semua dosanya diampuni Allah selama ia tidak mengganggu seorang muslim pun dalam perjalanannya. (hal 43)
Habib Ali bin Hasan sempat merasa kecewa dengan ulamanya zamannya.
Habib Ali bercerita:
    Sebelumnya aku telah mempersiapkan sebuah judul untuk buku ini.  Namun, ketika aku berziarah ke makam Asy-Syeikh Al-Kabir Abdurrahman bin Umar Ba Harmus yang dijuluki Al-Ahdhor* di pekuburan Hitsm di kota Heinein, Allah mengilhamiku untuk memberi judul buku ini Al-Qirthos Fi Manaqibil 'Atthos.  Kurenungkan nama ini, kulihat di Quran kata qirthos disebut beberapa kali.  Di antaranya adalah: walau nazzalnaa 'alaika kitaaban fii qirthoos... (dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas), taj'aluunahuu qoroothis... (kalian jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas), dll.  (hal 5)...   Aku juga melihat tiga huruf terakhir dari kata qirthos senada dengan tiga huruf akhir kata Al-'Atthos.  Dan belum ada seorang penulis pun yang menggunakan nama ini, lagi pula makna kata itu sesuai dengan isi hatiku. (hal 6)
Mengapa garis keturunan Rosul saw ini disebut Al-'Atthos?  Nantikan rubrik berikut.
Keluarga Al-'Atthas adalah keturunan dari Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.

    Kata Al-'Atthas berasa dari kata dasar 'athosa yang berarti bersin.

    Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Al-Qirthos Fi Manakibil 'Atthos berkata, “Dijuluki Al-'Atthas karena suatu karomah.  Ketika dalam kandungan ibunya, janin keluarga Al-'Atthas bersin dan mengucapkan Alhamdulillah.  Suara bersin ini terdengar padahal ia masih berada dalam kandungan ibunya.  Orang yang pertama kali bersin dalam kandungan ibunya adalah Sayidina Agil bin Salim.  (Al-Mu’jam Al-Lathiif, cet. I 1986, Alamul Ma’rifah, Jeddah hal 134 – 135)

    Habib Ali bin Hasan Alatas berkata bahwa suara bersin dari janin-janin keluarga Al-'Atthas selalu terdengar sepanjang zaman.  Anak beliau, Hasan bin Ali, juga bersin ketika berada dalam kandungan ibunya.  Suara bersin itu hampir menjadi hal yang biasa bagi para isteri keluarga Al-'Atthas.  Di setiap zaman dan tempat banyak diceritakan peristiwa ini.  Suara bersin itu umumnya terdengar pada bulan kesembilan  masa kehamilan dengan syarat suasana tenang.  Suara bersin itu terdengar oleh orang yang hamil dan orang yang berada di dekatnya. (Tajul A’ros I, hal 38-39)
    Apa hubungan Al-'Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.
Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakran mengandung tua.  Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan.  Dari dalam perutnya ia mendengar  perdebatan.
    "Keluarlah kau," kata salah satu janin.
    "Kau saja yang keluar dahulu," kata janin yang lain.
    Janin yang satu mengutamakan janin lain.  Sebab, janin yang keluar lebih dahulu kelak akan menjadi kakak.  Dalam riwayat lain, perdebatan ini sempat membuat sang ibu khawatir.  Sebagaimana kebanyakan ibu, Thalhah menghendaki kelahiran putranya dengan cepat dan selamat.
    Akhirnya salah satu janin itu berkata, "Keluarlah lebih dahulu, nanti aku yang masyhur, tapi sesungguhnya Almasyhuur fii barokatil mastuur (yang masyhur itu ada dalam keberkahan yang tidak tidak dikenal)."
    Tak berapa lama lahirlah bayi yang kemudian diberi nama Aqil, lalu disusul adiknya yang kemudian diberi nama Abubakar.  Aqil inilah kakek keluarga Al-'Atthas, dia juga yang pertama kali bersin dan mengucap hamdalah ketika masih dalam kandungan ibunya.  Jadi, Al-'Atthas adalah kakak dari BSA (bin Syeikh Abubakar bin Salim) [Tajul A’ros juz I Hal 37-38]
Sebagaimana ucapan janin tadi, kita jarang dengar cerita tentang Habib Aqil, tapi lain halnya dengan Syeikh Abubakar.  Sejak kecil Syeikh Abubakar telah masyhur. Habib Aqil bin Salim akan menjadi seorang wali yang mastuur, tapi sebaliknya Syeikh Abubakar bin Salim, adiknya.

Kalam Al-Habib Ali bin Hasan Al-Atthas
Di antara yang menyebabkan husnul khotimah adalah pendek angan-angan, karena orang yang tidak banyak berangan-angan, akan giat beramal. Sebagian dari salaf berkata, “Siapa yang panjang angan-angannya, maka akan buruk amalannya.”
Bersabda Rasulullah saw, “Kematian adalah sesuatu yang jauh, tapi cepat kedatangannya”. Beliau juga bersabda, “Generasi pertama umat ini selamat karena zuhud dan keyakinan yang kuat kepada Allah. Sedangkan generasi akhir umat ini akan celaka karena rakus dalam mencari kemewahan dunia dan panjang angan-angan.”
Berkata Al-Imam Ali karomallahu wajhah, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”
Adapun mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan kita dari yang haq (kebenaran), sedangkan panjang angan-angan akan melupakan kita tentang akhirat. Barang siapa yang lupa akan akhiratnya, dia tidak akan beramal untuk akhiratnya. Dan barang siapa yang tidak beramal untuk akhirat, maka dia akan sampai di akhirat dalam keadaan rugi dan sengsara. Diterangkan dalam sebuah hadits,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang yang gharib atau orang yang numpang lewat.”
Ketika Rasulullah saw ditanya, “Siapakah, ya Rasul, orang yang beruntung?.” Beliau bersabda, “Orang yang beruntung adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkannya dengan baik. Mereka itulah orang-orang yang beruntung meninggalkan dunia dengan membawa kemuliaan dan kenikmatan akhirat.”
Oleh karena itu, janganlah kalian tidur kecuali telah menulis wasiat jika kita memiliki sesuatu yang perlu kita wasiatkan, karena dikhawatirkan mati mendadak. Mati mendadak (mautul faj’ah) adalah rahmat bagi orang mukmin yang telah memiliki persiapan dan kesengsaraan bagi orang yang fajir. Hendaknya kita berusaha agar yang paling akhir kita ucapkan sebelum tidur) adalah dzikrullah dan yang pertama kita ucapkan (ketika bangun tidur) adalah dzikrullah. Insya Allah kita akan bahagia dan mati dalam keadaan husnul khotimah.
[Dikutip dari kitab Al-Qirthas]

Senin, 07 Maret 2016

jadwal puasa tahun 2016 m


JADWAL PUASA SUNNAH DAN RAMADHAN

Awal Bulan Rabi'ul-Akhir 1 Rabi'ul-Akhir 1437 H Senin 11 Jan 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Rabi'ul-Akhir 1437 H Sabtu 23 Jan 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Rabi'ul-Akhir 1437 H Ahad 24 Jan 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Rabi'ul-Akhir 1437 H Senin 25 Jan 2016
Awal Bulan Jumadil-Awwal 1 Jumadil-Awwal 1437 H Rabu 10 Feb 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Jumadil-Awwal 1437 H Senin 22 Feb 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Jumadil-Awwal 1437 H Selasa 23 Feb 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Jumadil-Awwal 1437 H Rabu 24 Feb 2016
Awal Bulan Jumadil-Akhirah 1 Jumadil-Akhirah 1437 H Kamis 10 Mar 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Jumadil-Akhirah 1437 H Selasa 22 Mar 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Jumadil-Akhirah 1437 H Rabu 23 Mar 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Jumadil-Akhirah 1437 H Kamis 24 Mar 2016
Awal Bulan Rajab 1 Rajab 1437 H Jum'at 08 Apr 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Rajab 1437 H Rabu 20 Apr 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Rajab 1437 H Kamis 21 Apr 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Rajab 1437 H Jum'at 22 Apr 2016
Isra' Mi'raj 27 Rajab 1437 H Rabu 04 May 2016
Awal Bulan Sya'ban 1 Sya'ban 1437 H Ahad 08 May 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Sya'ban 1437 H Jum'at 20 May 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Sya'ban 1437 H Sabtu 21 May 2016
Nishfu Sya'ban 15 Sya'ban 1437 H Ahad 22 May 2016
Awal Puasa Ramadhan 1 Ramadhan 1437 H Senin 06 Jun 2016
Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1437 H Selasa 05 Jul 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Syawwal 1437 H Ahad 17 Jul 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Syawwal 1437 H Senin 18 Jul 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Syawwal 1437 H Selasa 19 Jul 2016
Awal Bulan Dzul-Qa'idah 1 Dzul-Qa'idah 1437 H Kamis 04 Aug 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Dzul-Qa'idah 1437 H Selasa 16 Aug 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Dzul-Qa'idah 1437 H Rabu 17 Aug 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Dzul-Qa'idah 1437 H Kamis 18 Aug 2016
Awal Bulan Dzul-Hijjah 1 Dzul-Hijjah 1437 H Jum'at 02 Sep 2016
Wuquf di 'Arafah 9 Dzul-Hijjah 1437 H Sabtu 10 Sep 2016
Hari Raya Idul Adha 10 Dzul-Hijjah 1437 H Ahad 11 Sep 2016
Hari-hari Tasyriq 11, 12, 13 Dzul-Hijjah 1437 H Senin 12 Sep 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Dzul-Hijjah 1437 H Kamis 15 Sep 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Dzul-Hijjah 1437 H Jum'at 16 Sep 2016
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 H Ahad 02 Oct 2016
Puasa Tasu’a 9 Muharram 1438 H Senin 10 Oct 2016
Puasa 'Asyura 10 Muharram 1438 H Selasa 11 Oct 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Muharram 1438 H Jum'at 14 Oct 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Muharram 1438 H Sabtu 15 Oct 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Muharram 1438 H Ahad 16 Oct 2016
Awal Bulan Shafar 1 Shafar 1438 H Selasa 01 Nov 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Shafar 1438 H Ahad 13 Nov 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Shafar 1438 H Senin 14 Nov 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Shafar 1438 H Selasa 15 Nov 2016
Awal Bulan Rabi'ul-Awwal 1 Rabi'ul-Awwal 1438 H Kamis 01 Dec 2016
Maulid Nabi saw. 12 Rabi'ul-Awwal 1438 H Senin 12 Dec 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 13 Rabi'ul-Awwal 1438 H Selasa 13 Dec 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 14 Rabi'ul-Awwal 1438 H Rabu 14 Dec 2016
Puasa Sunnah Yaumul Bidh 15 Rabi'ul-Awwal 1438 H Kamis 15 Dec 2016
Awal Bulan Rabi'ul-Akhir 1 Rabi'ul-Akhir 1438 H Jum'at 30 Dec 2016

Jumat, 26 Februari 2016

Ratib Al-atthos

                                      ِبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة

اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (ثَلاَثًا)


 ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (ثلاثا) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ    شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِا للهِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (ثلاثا) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (ثَلاَثًا) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (عَشْرًا)  اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (ثَلاَثًا) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (ثَلاَثً) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.

Kemudian membaca :



اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْل اللهِ , مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِ اَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّ نْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ(
اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ.
اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍ وَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ)

Kemudian membaca :

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ


Kamis, 25 Februari 2016

sekelumit dalil tentang tahlil orang meninggal

Dalil tentang Peringatan 3, 7, 40, 100 Hari Orang Yang Meninggal

Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183

قَالَ طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْاعَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai suatu khobar/riwayat dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata:
seorang mu’min dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.

Dalil diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌكَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُيَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.

Jika sudah jadi keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali). Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadit mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.
Lebih jauh, Imam al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan secara turun temurun sejak masa sahabat.
Kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”

Selanjutnya dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:

قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِىعَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.

(Kata-kata Imam thawus),
pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya.

Dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu, Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya.

Dalam kitab Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُشَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.

Di anjurkan oleh syara’ shodaqoh bagi mayit, dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.

sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja, sebagaimana fatwa Sayyid Zaini Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.

Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW.

Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawili Al-Fatawi:

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْاعَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸)

“Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178)

Imam Al-Suyuthi berkata:

أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا
لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴)

“Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah.

Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi,juz II, hal 194).

Sehingga dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat tentang penentuan hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.

Kamis, 28 Januari 2016

teks bacaan tahlil






Teks Bacaan Tahlil





إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَة)

ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَاْلعُلَمَاءِ وَاْلمُصَنِّفِيْنَ وَجَمِيْعِ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ خصوصا سيدنا شيخ عبد القادر رضي الله عنه (اَلْفَاتِحَة)

ثُمَّ إلى جَمِيْعِ أَهْلِ اْلقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ إلى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا أبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادَنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخَنَا وَمَشَايِخَ مَشَايِخِنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ وَخُصُوْصًا اِلٰى روح........ (Nama arwah yang dikirimi hadiah tahlil(اَلْفَاتِحَة)

بـــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بـــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّـثاتِ فِى الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بـــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين. أمِينْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

الم ذَلِكَ اْلكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.

 وَإِلهُكُمْ إِلهُ وَاحِدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ 

اللهُ لاَ إِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ. لَهُ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ مَنْ ذَالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلاَ يَؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ.
لِلّٰهِ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَا في اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوْpا مَافِى أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهِ فَيُغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ. وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. امَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبَّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ. كُلٌّ امَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لاَيُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَ أَوْ أَخْطَعْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَاأَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَفِرِيْنَ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم (٣ مرة)

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ 
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ ,
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ (١٠٠ مرة)
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ ( ٢ مرة)
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ يَارَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (٣٣ * مرة)
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ (٢ * مرة )
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ. (اَلْفَاتِحَة)



Doa Tahlil

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْد الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ.  وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْملاَءِ اْلاَعْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ وَتَقَبَّلْ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلناهُ وَمَا سَبَّحْنَاه وَمَا صَلَّيْنَاهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَّاصِلَةً وَّرَحْمَةً نَّازِلَةً وَّبَربكَةً شَامِلَةً وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً نُقَدِّمٌ ذَالِكَ وَنُهْدِيهِ اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أعْيُنِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى جَمِيْعِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسلِيْنَ، وَاْلاَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاِءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلَصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِي رضي الله عنه
Jika berkendak ditujukan kepada ruh seseorang, maka baca :

وَخُصُوْصًا اِلَى رُوْحِ …………..
 (sebutkan nama ruh yang dituju)

Lalu melanjutkan bacaan doa :


ثُمَّ إلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَاتِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا إِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ وَلأَجْلِهِ. 
أَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ.
أَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَةُ